BREAKING NEWS

 


Kita Menjual Punggung Ibu




Umar A Pandrah


Batu dikuras di sungai
seperti kita menguras sabar seorang ibu.
Airnya keruh, sama seperti mata terlalu lama menahan tangis.

Gunung digunduli
sama telanjangnya seperti kehormatan
kita gadaikan demi semen dan besi.
Puncaknya botak. Akarnya malu.

Bukit dikeruk
perut bumi dibelah tanpa bius.
Kita ambil isinya,
lalu buang kulitnya ke jurang.

Hutan digunduli
paru-paru dunia kita jual kiloan.
Lalu kita heran
kenapa napas semakin pendek,
kenapa hujan semakin pelit,
kenapa doa tidak lagi turun.

Kita bukan korban kemarau.
Kita pelakunya.
Kita bukan korban banjir.
Kita arsiteknya.
Dan kelak,

anak cucu akan bertanya sambil menunjuk foto:
"Ini gunung ya, Ayah?"
Kita hanya bisa menjawab:
"Iya, Nak. Dulu.
Sebelum kita menukarnya dengan hutang
bahkan tidak sempat kita nikmati."

Tanah ini tidak pernah ingkar janji.
Kitalah ingkar.
Dan tanah...
tidak pernah lupa menagih.***
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image