BREAKING NEWS

 


Tgk. Habibi An-Nawawi di Milad 800 Samudera Pasai: Tajaga Adat, Tapeukong Syariat — Kembali ke Akar Keimanan dan Keadilan


Aceh Utara I Gebrak24.com — Ribuan jemaah memadati Lapangan Upacara Landing, depan Kantor Bupati Aceh Utara, pada Rabu (9/9/2026), untuk mengikuti acara zikir dan tausiyah besar dalam rangka memperingati Milad ke-800 Kerajaan Samudera Pasai. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengundang khusus ulama Tgk. Habibi An-Nawawi, LC., M.DIPL, sebagai penceramah utama. Acara semula dijadwalkan Selasa (8/9), namun diundur sehari menyusul keterlambatan kedatangan beliau akibat gangguan penerbangan dampak aktivitas Gunung Krakatau.

Mengusung tema "Tajaga Adat, Tapeukong Syariat", acara ini mengangkat falsafah luhur masyarakat Aceh — Adat bersendi syariat, syariat bersendi Kitabullah — yang menjadi prinsip berdirinya Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara.

 Tgk. Habibi An-Nawawi menjelaskan, Delapan ratus tahun lalu, di tanah ini, Sultan Malikussaleh menancapkan tonggak Islam di Nusantara. Samudera Pasai bukan sekadar pusat perdagangan dunia, melainkan pusat syiar Islam yang menyinari seluruh nusantara.

"Para ulama, para sufi, para penulis Al-Qur'an berkumpul di sini. Maka, memperingati 800 tahun Samudera Pasai bukan sekadar merayakan masa lalu — melainkan kembali ke akar keislaman kita."tandanya.

Beliau menegaskan bahwa warisan terbesar para leluhur bukanlah harta benda, melainkan keseimbangan antara adat dan syariat. Warisan terbesar Indatu bukan emas, bukan perak, bukan pula luas wilayah. Warisan terbesar mereka adalah adat yang berpijak di syariat, dan syariat yang berakar di Al-Qur'an dan Sunnah.

"Tajaga adat, tapeukong syariat — jaga adat, tegakkan syariat. Jangan sampai kita meninggalkan adat karena agama, dan jangan pula kita meninggalkan agama karena adat. Keduanya ibarat dua sayap satu burung."ujarnya.

Delapan abad berlalu, banyak kerajaan datang dan pergi, namun nama Samudera Pasai tetap hidup. Menurut Tgk. Habibi, kuncinya terletak pada keimanan dan keadilan.

"Delapan abad berlalu. Banyak kerajaan datang dan pergi. Tapi Samudera Pasai tetap hidup dalam hati anak cucunya. Mengapa? Karena ia berdiri di atas keimanan dan keadilan. Maka tugas kita hari ini bukan sekadar mengenang — tapi membangun kembali kejayaan itu dengan ilmu, dengan akhlak, dengan persatuan. Jangan sampai orang asing lebih menghargai sejarah kita daripada kita sendiri."jelas Tgk.Habibi.

Beliau mengutip pesan wasiat Sultan Malikussaleh yang tetap relevan hingga hari ini: "Janganlah kamu menzalimi hamba Allah, dan janganlah kamu berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hukum Allah."imbuhnya.

"Sebuah negeri tidak akan makmur jika tidak ada keadilan. Kekayaan tidak akan bertahan jika diambil dari yang lemah. Kejayaan Pasai dulu karena rakyatnya diperlakukan adil."katanya.

Terkait semangat pembangunan daerah, Tgk. Habibi menyampaikan, "Aceh Utara bangkit — itu bukan slogan. Itu doa. Itu ikhtiar. Dan ikhtiar itu tidak akan sempurna tanpa persatuan. Bersama ulama, bersama tokoh adat, bersama pemerintah, bersama seluruh lapisan masyarakat. 

*Seperti dulu para leluhur bersatu membangun Pasai — mari kita bersatu membangun Aceh Utara yang lebih Islami, lebih maju, lebih bermartabat, dan lebih berkelanjutan, "ungkapnya.

Di akhir tausiyah, beliau mengatakan, Semoga Allah menjadikan peringatan 800 tahun ini sebagai titik balik — di mana kita kembali mencintai sejarah, kembali mencintai ilmu, kembali mencintai keadilan, dan kembali mencintai persatuan. 

"Semoga Allah menjadikan kita generasi yang mampu meneruskan perjuangan Indatu, bukan hanya mengenang, tetapi melampaui kejayaan mereka di masa yang akan datang."tutupnya.

Acara dihadiri oleh Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, jajaran pejabat daerah, ulama, tokoh adat, serta puluhan ribu masyarakat luas. Kegiatan juga disiarkan secara live streaming untuk menjangkau masyarakat yang tidak dapat hadir langsung ke lokasi. (tim/red) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image