Tangkulok Pasee Menggema di Milad Samudera Pasai ke-800: Semarak Pertunjukan, Harapan untuk Pelestarian
Aceh Utara I Gebrak24.com — Gemuruh tepuk tangan dan irama ketukan pelepah pinang memecah keheningan malam di Landeng, Lhoksukon, Selasa (8/9/2026). Grup seni Tangkulok Pasee sukses memukau ribuan pengunjung dalam peringatan 800 tahun Kerajaan Samudera Pasai melalui pertunjukan tradisional Poh Kipah.
Di atas panggung utama, para penari menyajikan gerakan energik yang diselaraskan dengan bunyi tepukan pelepah pinang, disertai lantunan syair salawat dan pesan keagamaan. Irama dinamis tersebut seolah menghidupkan kembali denyut kebudayaan bumi Pasee yang telah mengakar sejak tahun 1950-an.
Seni Poh Kipah, atau Dikee Poh Kipah, tumbuh subur di tengah masyarakat Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara. Kesenian ini bermula dari tradisi komunal saat warga berkumpul untuk zikir dan peringatan Maulid Nabi, di mana pelepah pinang dimanfaatkan sebagai instrumen pengiring lantunan syair.
Berjuang Secara Mandiri Sejak Masa Konflik
Di balik kemeriahan itu, tersimpan kisah perjuangan panjang. Pimpinan Tangkulok Pasee, Syekh Yusran Yus, mengungkapkan kelompoknya telah merawat seni ini sejak tahun 2002, di tengah situasi konflik yang masih melanda Aceh.
"Saya dulu dilatih langsung oleh paman saya, Syekh Awahab Syah. Selama ini kami berjuang dan menjaga seni budaya ini secara mandiri agar khazanah asli kebanggaan masyarakat Pasee tidak hilang digerus waktu," ujar Yusran.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang konsisten memberi ruang bagi seniman akar rumput, termasuk dukungan dari media massa Tribunpase.id. Perhatian konkret seperti itulah yang menjaga kesenian tradisional tetap hidup.
Pelestarian Tak Boleh Sekadar di Panggung
Meski pertunjukan berlangsung semarak, momen ini juga menjadi refleksi bagi pelestarian adat di Aceh Utara. Panggung seremonial dinilai belum cukup untuk menjamin keberlanjutan warisan budaya. Peringatan 800 tahun Samudera Pasai seharusnya menjadi pengingat bahwa pelestarian tidak boleh berhenti pada administrasi atau panggung sesaat.
Pertunjukan Tangkulok Pasee malam itu membuktikan kemandirian seni akar rumput. Namun, menggantungkan kebudayaan hanya pada perjuangan seniman dan dukungan swasta bukanlah jalan yang berkelanjutan. Bumi Pasee membutuhkan dukungan nyata dari pemangku adat dan pemerintah daerah, bukan sekadar menjadi penonton di panggung kemeriahan. (tim/red).

