Menjaga Warisan 800 Tahun Samudera Pasai Melalui Kelezatan Kuliner Tradisional Aceh Utara
Aceh Utara I Gebrak24.com — Kuliner tradisional bukan sekadar pengisi perut. Makanan lawas adalah mesin waktu yang merawat cerita, budaya, dan kejayaan masa lalu..Di Aceh Utara, semangat merawat peradaban itu hidup lewat dua perempuan tangguh. Mereka adalah Ibu Musyidah dari Desa Meucat dan Ibu Zulyani dari Desa Peunayan.
Sejak tahun 1990, kedua pelaku UMKM ini konsisten membuat kue khas tanah Pasai. Mereka memproduksi kueh semprong, bolu tradisional, halua, dan ada juga kue bhoi. Kue-kue ini bukan camilan biasa. Rasanya menjaga cita rasa asli peninggalan era keemasan Kerajaan Samudera Pasai yang kini berusia 800 tahun.
Gempuran makanan modern serba instan tidak membuat mereka goyah. Ibu Musyidah dan Ibu Zulyani memilih setia pada resep leluhur. Bagi mereka, menepung beras, meracik gula, dan memanggang kue secara tradisional adalah sebuah kehormatan.
Dedikasi selama lebih dari 30 tahun ini terbukti membuahkan hasil. Kuliner adat buatan mereka sukses memikat hati para pencinta sejarah. Salah satunya saat produk mereka tampil di stan Expo Milad 800 Tahun Samudera Pasai di Aceh Utara.
Hingga saat ini, kedua perempuan tersebut masih mempertahankan sistem penjualan klasik yang personal. Konsumen dan pelanggan setia bisa memesan langsung dengan datang ke rumah produksi mereka di desa masing-masing. Langkah ini justru menjadi benteng pertahanan bagi keaslian rasa kuliner Pasai. Rasa autentik inilah yang membuat rindu para penikmatnya.
"Kuliner tradisional ini adalah identitas kita. Jika bukan kita yang menjaganya, anak cucu kita hanya akan mendengar namanya tanpa pernah tahu rasanya," ujar mereka penuh harap.
Kisah Ibu Musyidah dan Ibu Zulyani adalah bukti nyata. Di balik kelezatan sepotong kueh Semprong atau manisnya halua, ada sejarah besar yang terus dirawat agar tidak hilang ditelan waktu. (tim/red).

