BREAKING NEWS

 


Sultanah Nahrisyah, Penguasa Perempuan yang Mengangkat Kejayaan Samudera Pasai


Aceh Utara I Gebrak24.com — Di masa kejayaan Kesultanan Samudera Pasai, lahir sosok penguasa perempuan yang tak hanya memimpin, tetapi menjadikan wilayah ini pusat peradaban Islam, ilmu pengetahuan, dan perdagangan di Asia Tenggara: Sultanah Nahrisyah. Beliau bukan sekadar pemimpin, melainkan simbol keemasan masa keemasan negeri ini.

Di bawah kepemimpinan Sultanah Nahrisyah, ulama-ulama besar dunia Islam mendapat tempat terhormat di Pasai. Di antaranya Nurul Akabir Abdullah bin Muhammad bin Abdul Kadir bin Abdul Aziz, keturunan langsung Khalifah Bani Abbasiyah, serta Saidi Maduddin Ali bin Saidi Zaki bin Saidi Ishak Al-Husaini Al-Hasani. Kedatangan tokoh-tokoh besar ini menegaskan kedudukan Samudera Pasai sebagai pusat rujukan keilmuan dan kewibawaan Islam di kawasan.

Sultanah Nahrisyah memerintah selama 22 tahun — masa yang disebut sebagai puncak kegemilangan Samudera Pasai. Bukti kebesaran beliau terukir di makamnya: permukaan dinding dihiasi ukiran lengkap Surat Yasin, seluruh 83 ayat, yang melambangkan kedudukan Pasai bagai jantung kehidupan Islam di Asia Tenggara. Nisan marmer makamnya pun disebut sebagai yang terindah nomor satu di kawasan, meski diduga berfungsi sebagai tanda penghormatan, sementara jenazah beliau dimakamkan di tempat lain yang belum diketahui secara pasti.

Sultanah Nahrisyah berpulang ke Rahmatullah pada 17 Dzulhijjah 831 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1428 Masehi. Kekuasaan kemudian beralih kepada kerabat beliau yang memerintah selama sepuluh tahun hingga wafat pada 21 Syawal 841 Hijriah.

Rangkaian kepemimpinan berlanjut hingga sultan terakhir, Zainal Abidin bin Mahmud, yang berpulang pada 18 Muharram 923 Hijriah atau 1517 Masehi. Bersama wafatnya beliau, berakhirlah masa kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai, berbarengan dengan gempuran bangsa Portugis yang membumihanguskan pusat kota kesultanan tersebut.

Namun, cahaya perjuangan tidak padam. Pergantian kekuasaan kemudian berlanjut kepada Kerajaan Aceh Darussalam yang bangkit tegak, dipimpin oleh keturunan para raja Pasai — antara lain Sultan Muhammad Syah Lamuri, Sultan Munawarsyah, hingga Sultan Al-Maksus Bi Muqayyadillah Ali Mughayat Syah yang mengibarkan bendera kebesaran Aceh di awal abad ke-10 Hijriah. Di sinilah lembaran sejarah baru dimulai, menyambung darah dan semangat perjuangan yang dititipkan para pendahulu di Samudera Pasai.

Uraian sejarah ini disampaikan oleh Pengurus Situs Cagar Budaya Komplek Makam Sultanah Nahrisyah, Tgk. Ramlan (Rajakhan). 

"Segala kekurangan dan kesilapan adalah keterbatasan kami, kebenaran hanya datang dari Allah SWT," ujarnya. 

Pengurus situs cagar budaya setempat, Tgk. Ramlan (Rajakhan), menyambut baik gerakan peduli lingkungan ini. Menurutnya, penghijauan di situs makam ratu pertama se-Asia Tenggara ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah sekaligus upaya menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image