Gandeng Unimus Bireuen, Ihsan Johor Malaysia Laksanakan Seminar Internasional
Bireuen I Gebra24.com - Relawan Ihsan Johor Malaysia sukses menyelenggarakan seminar internasional bertajuk "Resilient Communities Start With Women And Youth" di Aula MA Jangka, Universitas Almuslim (Umuslim), Selasa (27/1/2026).
Kegiatan ini menyoroti peran strategis perempuan dan pemuda dalam membangun komunitas yang tangguh. Konsep resilience atau ketangguhan yang diangkat menekankan pada kemampuan individu untuk beradaptasi, bangkit kembali, serta tetap kokoh saat menghadapi situasi sulit, tekanan, maupun trauma.
Seminar Internasional dibuka Oleh Rektor Umuslim Dr Marwan M.Pd diwakili Oleh Rektor III bedang Alumni dan Kemahasiswaan Dr drh Zulfikar M.Si yang menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada Ihsan Johor telah melaksanakan Seminar Internasional di Universitas Almuslim dengan mengangkat tema tentang komunitas wanita dan pemuda tangguh dalam menghadapi masa transisi pasca bencana banjir dan tanah longsor di Aceh.
Seminar Internasional diikuti para dekan, wakil dekan, dosen, utusan mahasiswa setiap fakultas 25 orang dan relawan gleeh.dipimpin Aulia yang selama ini bekerja membantu membersihkan rumah rumah penduduk, masjid dan sekolah yang terdampak banjir di Aceh Utara, Aceh Timur dan Bireuen.
Suatu yang sangat menarik dan luar biasa menampilkan speker Masitah Mohd Afandy Vice Presiden Of Ihsan Johor Reliet, seorang tokoh wanita dari Johor yang sangat terkenal dan Tuna netra yang mampu menggugah semangat bisa bekerja walau dirinya cacat mata dan kemana mana dipapah suami tercinta. Menceritakan peristiwa yang dialaminya beberapa tahun lalu, namun bisa bangkit dan tangguh yang bisa memotivasi para mahasiswa untuk peduli kondisi aceh dengan bencana banjir.
Acara sangat menarik dipandu moderator Rizky Novialdi Ketua Prodi Hubungan Internasional Fisip Umuslim yang membuat Peserta seminar kagum dan bertepuk tangan kegirangan atas pertanyaan yang disampaikan kepada Masitah.
Masitah mengaku sangat Survise kepada pengungsi banjir di Aceh yang tinggal di tenda pengungsian, dimana mereka minta Alquran, bukan sembako. Ini beda dengan negara lain yang pernah dikunjungi ketika terjadi bencana, mereka lebih penting ada sembako.
Jadi bagaimana para pengungsi bisa bisa bangkit kembali dalam menghadapi masa sulit paska bencana banjir. Ditambahkan Masitah bahwa dalam rezeki kita juga ada rezaki orang, ini artinya bahwa kita hidup untuk orang lain yang saling peduli.
Selanjutnya Speker Farrah Bapteis bersama Mohamed Ridza bin Busu Presiden Of Ihsan Johor Relet menyoroti tentang pengungsi panca bencana banjir butuh air bersih, maka Relawan Ihsan Johor membantu pembangunan Sumur Bor di Riseh Kabupaten Aceh Utara.
Ditambahkan Farrah bahwa hidup saling ketergantungan, dimana orang kaya butuh tenaga orang miskin, orang sakit butuh tenaga orang sehat. Pemerinta butuh LSM menangani persoalan bencana dan musibah. Pemerintah tak sanggup menyelesaikan persoalan bencana, maka butuh relawan membantu mengatasi bencana. (rls/red).
