Gurihnya Keripik Bireuen: Buah Tangan Ikonik dari "Kota Transit" Segitiga Aceh
0 menit baca
![]() |
| Foto: Keripik |
Bireuen I Gebra24.com – Terletak strategis di "Segitiga Aceh", Kabupaten Bireuen bukan sekadar titik transit bagi warga yang melintas dari Banda Aceh menuju Medan atau sebaliknya. Berbatasan langsung dengan lima kabupaten/kota sekaligus—Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Lhokseumawe—kabupaten ini telah menjelma menjadi surga bagi para pemburu oleh-oleh, khususnya keripik pisang.
Jika Anda melintasi jalan negara di kawasan Kecamatan Jeumpa hingga Kota Juang, pemandangan deretan rak keripik yang menggugah selera akan menyambut perjalanan Anda.
Meski keripik pisang bisa ditemukan di mana saja, keripik Bireuen punya daya pikat tersendiri. Teksturnya yang gurih dipadukan dengan berbagai varian rasa, mulai dari manis, asin, hingga pedas. Tak hanya pisang, para pedagang juga menjajakan keripik ubi, sukun, hingga kentang.
Harganya pun tergolong ramah di kantong. Untuk satu kilogram keripik pisang, pembeli cukup merogoh kocek sekitar Rp 15.000, sementara untuk jenis sukun dibanderol hingga Rp 40.000 per kilogram.
"Saya selalu mengingatkan sopir untuk berhenti di Bireuen. Anak saya yang kuliah di Banda Aceh selalu minta dibawakan keripik ini sebagai buah tangan wajib," ujar M. Nur, warga Aceh Utara yang rutin melintasi kawasan ini, Kamis (29/1/2026).
Menariknya, menjamurnya industri keripik di Bireuen merupakan salah satu bukti nyata geliat ekonomi lokal pasca-penandatanganan MoU Helsinki tahun 2005. Kedamaian yang tercipta membuka keran rezeki bagi warga lokal yang sebelumnya terbatas oleh konflik.
Hafi, salah satu pedagang di Cot Gapu, mengaku bisa meraup omzet rata-rata Rp 1.000.000 per hari. Angka ini bisa melonjak hingga lima kali lipat saat momen libur panjang seperti Idul Fitri atau Idul Adha.
Hal senada diungkapkan oleh Sulaiman Yusuf. Ia menyebutkan bahwa meski hari biasa cenderung stabil, akhir pekan adalah masa panen bagi para pedagang. "Kalau akhir pekan, banyak kendaraan pribadi dan angkutan umum yang parkir khusus untuk borong keripik," ungkapnya.
Kini, ratusan sentra industri rumahan tersebar di berbagai kecamatan, mulai dari Juli, Peusangan, Jeumpa, hingga Kota Juang. Kehadiran industri ini tak hanya memperkuat citra Bireuen sebagai kota oleh-oleh, tetapi juga menyerap ratusan tenaga kerja lokal.
Bagi para pelancong atau mahasiswa yang kembali ke perantauan, membawa kantong plastik berisi keripik Bireuen seolah menjadi sebuah keharusan. Sebuah tradisi kecil yang ikut memutar roda ekonomi masyarakat di jantung Aceh ini. (Usman Cut Raja).
