BREAKING NEWS


 

Opini: MAKLUMAT PAMONG PANCASILA: MENYALAKAN PELITA KEDAULATAN DI TENGAH BADAI ZAMAN




Oleh: Martin Sembiring 

Rahayu, Salam Pancasila, Sahabat Seperjalanan, para pengemban amanat leluhur dan penjaga api ideologi bangsa.

Dalam derap langkah perjuangan kita sebagai PakJaras—sosok yang Penuh Akal dan Kerja Keras—kita menyadari bahwa kedaulatan bukan sekadar kata dalam naskah proklamasi. Ia adalah nafas yang harus kita jaga dari kepungan syahwat kolonialisme modern dan arus liberalisme yang hendak mencabut akar budaya kita.

Sebagaimana Amanat Marhaen, kita diingatkan akan watak angkara murka kaum penghisap yang hendak menjadikan "kekuatan modal sebagai hukum", yang memandang rendah kelembutan budi dan kejujuran bangsa kita.

*1. Menolak "Hukum Rimba" dengan Kesaktian Sila Kelima*

Dunia hari ini sering kali memuja adigang, adigung, adiguna—mengandalkan kekuatan modal untuk menjajah kedaulatan ekonomi. Modal asing sering datang sebagai tamu, namun bertingkah laku layaknya tuan tanah yang hendak menghapus Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sebagai Sahabat Seperjalanan, kita tegaskan: Bumi, air, dan kekayaan alam adalah pusaka si Marhaen, bukan bancakan para pemodal. Keadilan sosial bukan sekadar angka di atas kertas, tapi nasi yang cukup di piring rakyat jelata dan ketenangan di gubuk-gubuk petani.

*2. Teguh Berdiri di Atas Kepribadian Bangsa*

Liberalisme global sering mencibir langkah kita yang memilih jalan mandiri. Mereka menganggap cara hidup gotong royong kita sebagai penghambat "kemajuan" semu. Namun, janganlah gentar. Jika kejujuran kita dalam menjaga kekayaan Nusantara dianggap "menyusahkan" bagi mereka, itu adalah tanda bahwa kita sedang berada di jalur yang benar.

Kita bukan "barang tiruan" yang bisa didikte; kita memiliki jatidiri Bhinneka Tunggal Ika yang tak sudi larut dalam seragamnya ambisi global yang rakus.

*3. Melindungi Kaum Marhaen dengan Penuh Akal Kerja Keras (PakJaras)*

Pesan perjuangan mengingatkan kita untuk tidak menindas yang lemah dan tidak abai pada rakyat kecil yang bekerja di sawah dan lautan. Inilah sari pati pengabdian kita. Sebagai insan PakJaras, kita harus menggunakan akal budi dan kerja keras untuk menjadi benteng saat modal asing mencoba menggusur nilai kemanusiaan demi keuntungan semata.

Kedaulatan kita diuji bukan saat kita berlimpah harta, melainkan saat kita berani membela hak-hak Marhaen yang tak bersuara di hadapan raksasa ekonomi dunia.

*4. Manunggalnya Pemimpin dan Rakyat*

Semangat PakJaras adalah bukti kemanunggalan kita dengan rakyat. Kita menolak tunduk pada sistem yang hanya menciptakan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Sila Kelima menuntut kita untuk memayu hayuning bawana—menjaga kesejahteraan dunia dengan cara-cara yang adil dan beradab.

Kita adalah pewaris keberanian para pahlawan yang lebih memilih hidup bersahaja namun merdeka, daripada kenyang dalam penghambaan neo-kolonial.

*HIMBAUAN KITA*

Mari kita rapatkan barisan, Sahabat Seperjalanan. Kobarkan kembali semangat anti-liberalisme yang berakar pada kedaulatan sejati melalui kerja keras yang penuh akal. Jangan biarkan Merah Putih hanya menjadi kain hiasan, sementara ruh ekonomi Marhaen digadaikan pada kepentingan asing.

Tetaplah menjadi "orang jujur" yang setia pada jerit batin rakyat. Karena perlindungan sejati bukan datang dari kemilau emas modal asing, melainkan dari ridha Tuhan Yang Maha Esa dan kokohnya persatuan kita dalam menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Merdeka! Nyalakan Jiwa Nusantara!

(Martin Sembiring)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image