OPINI: Menjemput Fajar di Reruntuhan Dokan; Manifestasi Asta Cita dalam Komitmen Marhaenisme
Oleh: Martin Sembiring (Pemerhati Budaya)
Medan I Gebrak24.com - Republik ini berdiri di atas fondasi impian para pendiri bangsa yang tertuang dalam Pancasila. Namun, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 kini dihadapkan pada ujian besar: mampukah kita menjaga "akar" di tengah terjangan modernitas? Melalui kacamata Asta Cita dan semangat Marhaenisme, kita harus berani membedah realita kebudayaan kita yang saat ini berada dalam kondisi darurat.
*Darurat Kebudayaan di Tanah Karo*
Desa Budaya Dokan, yang menurut catatan Disbudparekraf Sumut, merupakan "kampung dengan suasana awal peradaban orang Karo," kini sedang merintih. Rumah Adat Siwaluh Jabu yang legendaris bukan sekadar artefak kayu; ia adalah perwujudan gotong royong delapan keluarga dalam satu atap—sebuah mikrokosmos dari kebhinekaan kita. Namun, kenyataan pahit sebagaimana diungkap dalam opini “Darurat Budaya Ditelan Waktu” (Gebrak24, 2026), menunjukkan bahwa situs-situs ini terancam punah.
*MOU dan Pisau Analisis Marhaenisme*
Dalam menghadapi situasi ini, kita memerlukan "Pisau Marhaenisme" untuk membedah kebijakan. Marhaenisme mengajarkan bahwa setiap kebijakan harus berpihak pada rakyat kecil (the common people). Diskusi mengenai MOU (Memorandum of Understanding) pelestarian budaya yang sedang kita gagas harus menjadi instrumen nyata, bukan sekadar seremonial. MOU ini harus mengikat komitmen antara pemerintah dengan masyarakat adat. Kita butuh aksi nyata untuk:
- Restorasi Fisik: Menyelamatkan arsitektur vernakular Karo dari kepunahan.
- Pemberdayaan UMK: Memastikan pariwisata budaya di Dokan memberikan kedaulatan ekonomi bagi warga lokal, bukan hanya korporasi besar.
*Asta Cita dan USDEK Modern*
Visi Asta Cita dan amanat Reformasi '98 menekankan penguatan ideologi Pancasila dan kedaulatan nasional. Dalam konteks USDEK Modern, pelestarian Dokan adalah implementasi dari:
- Kepribadian dalam Kebudayaan: Bangsa yang besar adalah bangsa yang bangga akan identitasnya sendiri.
- Ekonomi Terpimpin: Mengarahkan pembangunan agar menyentuh sektor mikro (UMK) di pedesaan.
*Kesimpulan*
Perjalanan menuju Indonesia Emas tidak boleh meninggalkan rakyat Pancasila di belakang. Kita harus bergerak dalam "Satu Perjalanan" yang padu. Dokumen-dokumen kerjasama yang telah kita susun harus menjadi kitab suci perjuangan untuk membangkitkan kembali martabat Tanah Karo. Mari kita kokohkan Pancasila dengan menyelamatkan Desa Budaya Dokan. Sebab, di atas fondasi budaya yang kuatlah, ekonomi UMK akan jaya dan Indonesia akan benar-benar emas. Mejuah-juah! Nusantara Berdaulat! ***

