Hemat Nasional dan Kedaulatan Sosial Ekonomi: Menavigasi Badai Rupiah, Rp17.000
![]() |
| Martin Sembiring Pengamat Sosial/Sekjen PIPP dan Penasehat media online Gebrak24 |
Medan I Gebrak24.com – Pada Minggu, 15 Maret 2026 - Nilai tukar Rupiah yang menembus angka psikologis Rp17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret 2026 menjadi sinyal waspada bagi ketahanan nasional. Menanggapi situasi ini, Pengamat Sosial, Martin Sembiring, menyerukan urgensi gerakan "Hemat Nasional" sebagai manifestasi nyata dari kedaulatan ekonomi Pancasila.
Badai Eksternal dan Ketangguhan Fundamental
Menurut Martin, angka Rp17.000 memang merupakan rekor terlemah dalam sejarah, namun masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan. "Penurunan ini bukan berarti ekonomi kita hancur total seperti tahun 1998. Pelemahan saat ini lebih didominasi faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik di Selat Hormuz dan kebijakan suku bunga global," ujarnya.
Ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dengan cadangan devisa yang memadai dan sistem perbankan yang stabil. Namun, dampak nyata berupa inflasi impor pada komoditas seperti BBM, gandum, dan elektronik tetap akan menekan daya beli masyarakat.
"Puasa Nasional" demi Kemandirian Bangsa
Sebagai solusi strategis, Martin Sembiring mengajak seluruh elemen bangsa untuk menerapkan pola hidup hemat dan mendukung kebijakan pemerintah untuk membatasi utang luar negeri. "Saatnya kita menerapkan 'Puasa Nasional'. Ini bukan sekadar menahan konsumsi, tetapi upaya kolektif untuk tidak menambah beban utang demi menyelamatkan masa depan bangsa. Kedaulatan ekonomi adalah harga mati yang bersumber dari irisian pisau ideologi Marhaenisme—yakni keberpihakan pada kekuatan ekonomi rakyat kecil," tegas Martin.
Seruan Aksi: Paradigma Pelayanan dan Inovasi Lokal
Dalam rilisnya, Martin juga menekankan beberapa poin kunci dalam menghadapi badai global ini:
- Patriotisme Konsumsi: Mengalihkan belanja dari barang impor ke produk lokal guna menekan permintaan dolar.
- Substitusi Bahan Baku: Mendorong penggunaan bahan baku alternatif nusantara—seperti pemanfaatan kekayaan hayati lokal untuk pangan dan kesehatan—guna mengurangi ketergantungan impor.
- Efisiensi Fiskal: Mendukung instruksi Presiden untuk disiplin anggaran di semua lini pemerintahan dan swasta.
"Ekonomi Pancasila mengajarkan kita tentang gotong royong. Jika seluruh kader dan masyarakat bersatu melakukan penghematan dan memperkuat sektor riil domestik, kita tidak hanya akan selamat dari badai ini, tapi akan muncul sebagai bangsa yang lebih mandiri dan berdaulat secara ekonomi," tutupnya. (tim/red)


