Jacob Ereste : Dunia Memanas Akibat Ketegangan Politik, Suhu Bumi Terasa Gerah Karena Tata Kelola Salah Melawan Sunnatullah
Banten I Gebrak24.com - Ketika dunia memanas akibat perang, masih ada alternatif untuk menghentikannya. Tapi saat bumi memanas, hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk mendinginkannya. Sebab planet bumi milik Tuhan sebagai sang pencipta. Lalu manusia yang ikut salah tidak ikut menjaga keseimbangan suhu di bumi, harus menerima akibatnya, seperti yang dirasakan banga Indonesia sekarang, khususnya Jakarta dan sekitarnya, sehingga suhu bumi, padahal kisaran suhu bumi baru sekitar 32 derajat celsius.
Jadi bisa segera dibayangkan bila suhu bumi terus naik pada kisaran 36 derajat Celcius hingga 40 derajat celcius. Mungkin banyak orang yang mulai merendam diri di Kali Malang atau Kali Angke hingga Sungai Cisadane. Sementara yang dirasakan salah satu warga Tangerang, Banten saat suhu bumi berkisar pada 32 derajat Celcius pada sepekan terakhir ini pun telah mengakibatkan sejumlah alat pendingin di rumah menjadi macet, terbakar atau konslet, sehingga memaksa dirinya untuk tidur di depan kulkas yang terbuka pintunya untuk sekedar mengimbangi suhu udara yang begitu membuat sekujur tubuh menjadi gerah.
Kendati begitu, dari kondisi serupa itu dia bisa membangun fantasi tentang suhu yang lebih panas di neraka, seperti yang sering dijadikan ilustrasi bahwa panas di neraka itu 1.000 kali bara api yang sering kita gunakan untuk membakar sate atau ikan. Artinya, panas dari suhu bumi yang meningkat dalam sepekan terakhir ini, cukup mengingatkan betapa pentingnya manusia untuk menjaga lingkungan hidup. Sebab sikap abai manusia terhadap lingkungan hidup -- khususnya di Indonesia -- perlu mendapat perhatian yang seimbang dan adil, semacam manusia harus dan patut bersikap baik sesama manusia yang lain.
Cuaca ekstrim bisa saja terjadi sebaliknya seperti di belahan dunia yang lain dengan suhu dingin yang jauh berada dibawah takaran normal. Jika penakar suhu udara dapat menggunakan air condition (AC) yang normal, maka suhu di bawah 18 derajat celcius dapat menimbulkan masalah yang serius. Apalagi terus menurun mendekati titik nol atau bahkan berada pada angka minus yang bisa dengan cepat membuat semua benda cair menjadi beku, termasuk tubuh manusia yang mempunyai daya tahan sangat terbatas.
Memetik hikmat dari kondisi cuaca ekstrim yang berada di luar akal waras ini, manusia pun masih sempat membayang suhu panas bumi yang meningkat dan bila terus bertahan hingga beberapa waktu lamanya, bukan mustahil di Indonesia akan mengalami bencana yang sangat sulit untuk diperkirakan. Peristiwa kebakaran yang terjadi di berbagai tempat agaknya menjadi bagian dari pengaruh suhu udara yang panas.
Jika kondisi panas bumi terus berlanjut sampai musim kemarau, bukan mustahil permukaan air laut akan naik dan menenggelamkan sejumlah daerah yang biasa menjadi pelanggan rob -- banjir bandang dan sejenisnya -- akibat mencairnya es di kutub Utara dan selatan. Artinya, panas ekstrim yang berkepanjangan sangat mungkin menimbulkan bencana global -- tidak hanya sebatas nasional, apalagi lokal -- karena mencairnya gunung es di kutub dunia tersebut akan berdampak global.
Agaknya, panas politik di dalam negeri kita memang sangat tentang terlindas oleh panas dunia akibat perang, seperti yang telah ditandai dengan kebaikan harga bahan bakar gas dan minyak. Apalagi kemudian panas akibat naiknya suhu bumi yang justru menjelang memasuki musim kemarau di Indonesia. Karena pemerintah cq Kementerian Lingkungan Hidup serta instansi terkait lainnya perlu menjalin kerjasama dengan masyarakat luas, untuk mengantisipasi ancaman panas bumi yang semakin tidak tertahan serta dapat mengancam ketahanan pangan kembali menjadi rentan.
Jadi, premis dari para pengamat tentang dari dunia yang memanas dan suhu bumi yang meninggi, semua akibat ulah manusia termasuk melawan sunnattullah -- hukum alam -- yang tertekan hingga berada diluar kemampuan dan kapasitas yang tersedia. ***
Banten, 29 April 2026


