Jacob Ereste : "Operasi Kodok" Yang Mencemaskan dan sangat Mengkhawatirkan
Pecenongan I Gebrak24.com - "Operasi Kodok" yang disinyalir Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, semakin marak realitasnya membuat iklim politik di Indonesia semakin memanas. Indikator dari kemunculan ratusan buzzet yang memperkeruh suasana meyakinkan bahwa gerakan "Operasi Kodok" dikendalikan oleh yang memiliki pengaruh besar dalam membuat iklim politik di Indonesia bertambah rumit dan krusial. Artinya, memang ada gelontoran dana yang disediakan untuk "Operasi Kodok" tersebut.
Fenomena dari perseteruan antara satu pihak dengan pihak lain, jelas dimaksudkan untuk mengaburkan masalah yang sesungguhnya sedang dihadapi oleh rakyat. Kecuali itu yang pasti "Operasi Kodok" yang dianggap membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi Indonesia, sangat mencemaskan, kata Sri Eko Sriyanto Galgendu yang memiliki jaringan cukup luas, tak hanya dengan aparat yang sedang aktif dalam pemerintahan, tapi juga akrab dengan kalangan tokoh agama -- apalagi dengan para spiritualis -- hingga aktivis dan tokoh masyarakat serta kaum pergerakan.
Atas dasar rasa kekhawatirannya yang mendalam itu, sebagai tokoh spiritual yang merasa bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara, dia merasa perlu dan berkewajiban untuk mengingatkan, setidaknya agar rakyat tidak tercabik-cabik dalam perpecahan yang tampak menjadi target dari "Operasi Kodok" tersebut.
"Operasi Kodok" itu sendiri dapat dicermati dari perpecahan dalam elemen masyarakat yang semakin meluas, serta fenomena lompatan-lompatan yang tidak menentu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. "Operasi Kodok" itu pun persis seperti suara kodok yang gaduh saat di musim penghujan, sehingga suaranya pun menimbulkan kebisingan.
Ratusan buzzer yang tampak semakin gencar bersuara melalui media sosial berbasis internet, sepatutnya harus menjadi perhatian pemerintah, cq Kementerian Komunikasi dan Digital yang selama ini terkesan tidak memberi pencerahan bagi masyarakat. Bahkan kegaduhan dan kriminalisasi terhadap insan pers pun terkesan menjadi bagian dari praktek " Operasi Kodok" yang sedang dilakukan.
Setidaknya, ada indikasi kuat yang meyakinkan bahwa "Operasi Kodok" dirancang secara terstruktur, sistematis dan massif dengan kuburan dana yang pasti tidak alang kepalang besarnya. Karena itu, beragam pertanyaan liar warga masyarakat semakin meluas dan melebar, hinggga perlu mengusut asal dana gelap yang telah digelontorkan itu, tidak hanya untuk buzzer, tapi juga untuk para tengkulak hukum untuk melancarkan kriminalisasi pada sejumlah tokoh, termasuk mereka yang dianggap vokal bersuara dari seberang yang dianggap sebagai lawan.
Karena itu, "Operasi Kodok" dapat dicermati dari kegandrungan seseorang melompat seperti kodok -- semula sebagai kawan -- kemudian mau menyeberang menjadi lawan, hanya karena cuan. Atau setidaknya masuk ke zona yang dianggap lebih nyaman. Maka itu, peran spiritualis sebagai tabib penyembuh penyembuh simtom sosial yang tengah menyerang diantara kegamangan warga masyarakat yang sedang menanggung beban ekonomi yang semakin berat. Akibatnya, harga diri pun jadi dianggap layak dan pantas untuk digadaikan.
Inilah dilemanya bagi warga masyarakat kebanyakan, tandas Sri Eko Sriyanto Galgendu, terhimpit diantara kegaduhan politik serta tenanan ekonomi yang semakin berat. Konsekuensi logis dari himpitan tersebut, nilai-nilai kebangsaan warga bangsa Indonesia menjadi kecil, menciut, sehingga memerlukan ruh spiritual untuk memulihkan kondisi -- bahkan situasi -- yang terkesan semakin memburuk dan amat sangat mencemaskan, tandasnya dalam berbagai kesempatan dialog dengan topik topik yang serius namun selalu dalam suasana yang santai. Sebab "Operasi Kodok" yang sangat mencemaskan dan mengkhawatirkan ini, harus disikapi dengan isi kepala dan hati yang dingin.
Pecenongan, 27 April. 2026


