BREAKING NEWS


 


 

Jacob Ereste : Upaya Untuk Membangun Keseimbangan Dunia Yang Sedang Kacau Melalui Laku Spiritual


Banten I Gebrak24.com - Spiritualitas itu adalah upaya membangun keseimbangan antara intelektualitas bersama spiritualitas.  Sehingga sikap dan keputusan hingga tindakan tak dimonopoli oleh satu pihak,  seperti yang dominan terjadi dilakukan oleh otak. Sementara bisikan hati tak mampu didengar. Akibat dari ketidakseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan spiritual  itu, tamsilnya seperti orang yang mengalami susah tidur, karena otak begitu agresif, sementara hati --batin dan jiwa -- gelisah tak jelas juntrungan  dari apa yang dipikirkan. Karena itu, peran spiritualitas menjadi peredam, karena memang sudah terlatih membangun kesadaran diri dan mengendalikan yang tenang dan damai. 

Kemampuan memerankan spiritualitas untuk menenangkan diri -- pikiran yang galau ini -- biasanya dapat dilatih melalui yoga. Sehingga pada tataran tertentu, mereka yang memiliki kemampuan yoga yang telah mumpuni, dapat melakukan yoga sambil tidur pulas. Bahkan untuk tahapan berikutnya, bisa melakukannya dengan kepala dibawah dan kaki terangkat lurus ke atas. Dalam cara yang lain, untuk mencapai tingkat konsentrasi serupa itu, itulah sebabnya ada tradisi samedi seperti yang banyak dilakukan oleh pelaku spiritual khas Jawa.

Dimana capaiannya acap memasuki  tahapan "manunggaling Kawulo lan gusti". Sebab Tuhan itu sendiri sangat diyakini memang berada di dalam setiap diri manusia. Atas dasar pemahaman dan keyakinan seperti itu, maka ciri khas spiritualitas suku bangsa Nusantara adalah menyelam ke kedalaman gati dan jiwa, jadi tidak seperti spiritualitas bangsa Barat yang percaya bahwa dalam upaya mencari kedamaian batin dan jiwa itu justru diyakini ada di luar -- jagat raya -- seperti laut dan gunung serta tempat lainnya yang berada di luar diri manusia.

Dalam versi  politik, otak itu  tidak boleh otoriter, dan hati tidak boleh dibungkam. Jadi, esensi dari spiritual dapat dikatakan semacam bukan keluar dari dunia nyata, tetapi masuk ke dalam diri sendiri untuk menghadapi carut-marut dunia agar tidak stres dan kalap.  Sebab kalau sampai salah, akibatnya bisa ikutan mereka yang banyak ngentit duit rakyat, ingkar janji, suka berbohong dan khianat terhadap amanah yang diberi kepercayaan oleh rakyat. 

Dalam skala yang lebih besar, spiritual itu adalah laku yang diperlukan oleh manusia untuk membuat  keseimbangan antara lahir dan batin. Atau yang dipahami serta diyakini adanya  masalah dunia  serta masalah akhirat. Sama halnya dengan kegemaran manusia mendaki ke gunung atau tamasya ke laut, intinya adalah untuk memperoleh ketenangan batin dengan melihat keindahan alam yang menandai kebesaran Tuhan, seperti acap disebut oleh para kaum sufi bahwa mereka dapat menyaksikan Sang Maga Pencipta itu pada deburan ombak yang tiada lelah menandai kekuasaan Tuhan. 

Pengembaraan spiritual yang mengasyikkan ini pun, tampak mulai marak dilakukan oleh para penyair Indonesia yang bergairah menulis puisi dengan dimensi spiritual yang dalam. Bahkan frekuensi mereka menulis pun seperti menemukan etos dan elan vital yang tidak kalah agresif dan progresif seakan tengah menyambut tradisi sastra baru yang lebih modern dan bernas, setidaknya tak lagi sekedar berindah-indah, seakan telah menemukan misi profetiknya yang penuh muatan sumber daya dan nilai spiritualitas.

Karya sastra wabil khusus puisi yang sarat nilai-nilai serta nuansa spiritual  yang dahsyat, tampak terus bermunculan dari komunitas sastra yang ada tanah air. Sehingga para penyair sufi  yang muncul pada beberapa tahun terakhir semakin memperoleh habitat yang lebih luas dan terbuka melalui model puisi esai yang makin digandrungi oleh mereka yang tumbuh dan muncul kemudian yang menyemarakkan blantika sastra Indonesia untuk kembali berjaya seperti pada masanya pujangga baru Indonesia pada kisaran setengah abad silam. Dan trend dari puisi esai yang sarat muatan spiritual, jelas merupakan upaya dari kawan-kawan penyair untuk membuat keseimbangan agar tidak ikut  mabuk dalam kancah politik di tanah air yang semakin tidak menentu dan kacau. 

Banten, 26 April 2026

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar