Penyair Taufiq Ismail di Mata L K Ara
Banda Aceh I Gebrak24.com - Nama Taufiq Ismail bagi saya bukan sekadar nama besar dalam sejarah sastra Indonesia.
Ia adalah semacam mercusuar—berdiri jauh di sana, tetapi cahayanya sampai ke ruang baca paling sunyi, ke meja tulis paling sederhana, bahkan ke hati penyair yang sedang kehilangan arah.
Dalam perjalanan saya sebagai penulis dan penyair, Taufiq Ismail selalu hadir sebagai suara yang mengingatkan bahwa puisi bukan hanya permainan kata, melainkan kesaksian batin dan tanggung jawab moral.
Saya mengenal puisinya sejak muda. Puisi-puisi beliau tidak pernah sekadar indah; ia menggugat, menegur, dan kadang menampar kesadaran. Dalam “Malu (Aku)
Jadi Orang Indonesia”, misalnya, kita tidak hanya membaca sajak, tetapi mendengar jeritan nurani bangsa. Ia tidak bersembunyi di balik metafora yang terlalu kabur. Ia memilih terang, karena luka bangsa memang harus disebut dengan nama.
Saya juga memiliki kenangan pribadi bersama beliau. Kami pernah bekerja sama dalam penyuntingan antologi sastra Aceh Seulawah. Dalam proses itu, saya melihat langsung ketelitian dan keluasan pandangan Taufiq Ismail terhadap sastra daerah.
Ia tidak memandang sastra Aceh sebagai pinggiran, melainkan sebagai bagian penting dari peta besar sastra Indonesia. Sikap itu memberi saya pelajaran besar: bahwa sastra daerah bukan pelengkap, tetapi akar yang menjaga pohon kebudayaan tetap hidup.
Di mata saya, Taufiq Ismail adalah penyair yang berhasil menjaga keseimbangan antara estetika dan etika. Banyak penyair terjebak pada keindahan bahasa, tetapi kehilangan keberanian moral.
Sebaliknya, ada pula yang terlalu berteriak hingga puisinya kehilangan daya puitik. Taufiq tidak demikian. Ia menulis dengan keberanian seorang saksi, tetapi juga dengan ketelitian seorang seniman.
Ia adalah penyair yang tidak takut berpihak. Ia berdiri di sisi rakyat, mahasiswa, sejarah, dan suara yang sering dibungkam. Dalam konteks itu, ia mengingatkan saya pada penyair-penyair besar dunia yang menjadikan puisi sebagai alat perlawanan—bukan propaganda, melainkan nurani yang bernyawa.
Saya juga melihat beliau sebagai guru kebudayaan. Kehadirannya di ruang-ruang sekolah, kampus, dan forum sastra menunjukkan bahwa ia tidak menempatkan puisi di menara gading. Ia turun ke tengah masyarakat, membaca puisi di hadapan pelajar, berdialog dengan generasi muda, dan menjaga agar sastra tetap hidup sebagai bagian dari pendidikan jiwa.
Sebagai orang Aceh, saya merasakan kedekatan batin dengan sosok seperti Taufiq Ismail. Aceh memiliki tradisi syair, hikayat, dan zikir yang panjang—semuanya menempatkan kata sebagai amanah. Taufiq pun demikian: kata baginya bukan hiasan, melainkan tanggung jawab. Ia menulis seolah setiap larik harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan sejarah.
Saya membayangkan jika Taufiq Ismail duduk di Gunongan, memandang kolam dan batu-batu tua itu, ia mungkin akan berkata bahwa puisi harus seperti air: jernih, mengalir, tetapi mampu mengikis batu paling keras. Dan saya percaya itu.
Di usia yang terus berjalan, Taufiq Ismail tetap menjadi penanda bahwa penyair sejati bukan hanya yang pandai merangkai kata, tetapi yang sanggup menjaga nurani tetap menyala. Ia mengajarkan bahwa puisi bukan tempat bersembunyi, melainkan tempat berdiri paling jujur.
Di mata saya, Taufiq Ismail bukan hanya penyair Indonesia. Ia adalah saksi zaman, penjaga bahasa, dan guru sunyi bagi banyak penyair—termasuk saya. (LK Ara)


