BREAKING NEWS


 

Bila Penyair Asia Berada di Tepi Danau Laut Tawar

 


L K Ara




Bila penyair-penyair Asia
berada di tepi Danau Laut Tawar,
barangkali mereka tidak segera menulis puisi.

Mereka hanya akan diam,
memandang kabut yang turun perlahan
ke bahu-bahu bukit
di Tanah Gayo.

Karena ada keindahan
yang terlalu sunyi
untuk segera diterjemahkan
ke dalam kata-kata.

Penyair Jepang mungkin
akan membuka telapak tangan,
membiarkan dingin pagi
jatuh seperti bunga sakura
yang terlambat pulang.

Lalu ia menulis:

“Danau ini tidak berbicara,
tetapi airnya membuat hati
lebih tenang daripada doa.”

Penyair Tiongkok
akan teringat lukisan tinta
tentang gunung-gunung tua
dan perahu kecil
yang hilang di antara kabut.

Namun di Gayo
ia menemukan sesuatu
yang tidak ada di negerinya:

kesedihan yang lembut
dan kedamaian
yang tidak meminta pujian.

Penyair India
akan duduk bersila
di bawah pohon pinus,
mendengar desir angin
seperti mantra purba
yang keluar dari tubuh bumi.

Ia berkata pelan:

“Tanah ini seperti kitab tua
yang belum selesai dibaca manusia.”

Penyair Thai
akan teringat kuil-kuil tua
dan lonceng senja
yang bergema dari pegunungan.

Namun di tepi danau ini
ia mendengar sesuatu
yang lebih tua dari bunyi logam:

suara angin
yang mengaji dedaunan
dan air
yang berzikir kepada batu-batu.

Lalu ia berkata:

“Di negeri ini,
alam masih berbicara
dengan bahasa para pertapa.”

Penyair Malaysia
akan tersenyum perlahan
mendengar logat serumpun
yang terasa akrab di telinganya.

Ia memandang kopi mengepul,
perahu kecil di tepian,
serta kabut yang turun
pelan-pelan seperti doa ibu.

Dan ia pun berkata:

“Tanah ini tidak terasa asing.
Seolah Melayu pernah singgah
dan meninggalkan rindunya di sini.”

Sedangkan penyair Arab
akan memandang langit senja
ketika azan magrib
turun dari surau kecil
di pinggir danau.

Dan ia pun berbisik:

“Barangkali beginilah wajah bumi
sebelum manusia
belajar menjadi tamak.”

Malam datang perlahan.

Api dinyalakan,
kopi Gayo dituang ke cangkir-cangkir kecil,
dan para penyair Asia
mulai membaca puisi mereka.

Bahasa berbeda-beda,
tetapi angin danau
mengerti semuanya.
Sebab kesedihan manusia

di mana pun tetap sama:

tentang hutan yang hilang,
tentang gunung yang dibelah,
tentang sungai yang mulai keruh,
tentang dunia
yang perlahan lupa
cara mencintai alam.

Lalu seorang ceh didong
berdiri di tengah lingkaran malam,
melantunkan syair tua
tentang leluhur Gayo
yang menjaga gunung
seperti menjaga kehormatan.

Para penyair Asia terdiam.

Mereka sadar
bahwa di tempat seperti inilah
puisi sebenarnya lahir:

bukan dari kemewahan kota,
melainkan dari hubungan yang akrab
antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dan ketika fajar datang
di atas Danau Laut Tawar,
para penyair itu pulang
dengan mata yang berubah.

Karena mereka tahu,
tidak semua danau
sekadar hamparan air.

Ada danau
yang mampu membuat manusia
ingin menjadi lebih bijaksana. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar