Hutan Hilang, Kampung Tenggelam
0 menit baca
L K Ara
Dari langit,
kampung itu tampak seperti tubuh
yang baru selesai disayat zaman.
Sungai turun membawa lumpur,
membawa batang kayu,
membawa suara gunung
yang lama menahan sakitnya.
Sawah-sawah hijau
yang dahulu mengaji kepada hujan,
kini rebah
di bawah arus coklat
yang mengamuk seperti tentara lapar.
Rumah-rumah terbuka dadanya.
Jalan-jalan kehilangan arah.
Dan manusia berdiri
di antara lumpur dan takdir
sambil bertanya:
siapa sebenarnya
yang menebang bencana?
Bukit-bukit itu dahulu hening.
Pohon-pohon berdzikir sepanjang malam.
Akar-akar memegang bumi
seperti tangan para wali
menggenggam tasbih kesabaran.
Tetapi manusia modern
datang membawa gergaji,
membawa peta tambang,
membawa pidato pembangunan.
Hutan dipandang
bukan lagi amanah Tuhan,
melainkan angka-angka
yang dapat dipindahkan
ke rekening kekuasaan.
Dan gunung mulai kehilangan doanya.
Di ruang-ruang rapat
mereka menyebut investor
seperti menyebut penyelamat.
Di meja-meja panjang
ditandatangani surat dukungan
oleh rakyat yang lapar—
rakyat yang perlahan diajari
menjual tanah leluhurnya sendiri
demi janji kemakmuran.
Betapa sunyi hati negeri ini.
Betapa sunyi hati negeri ini.
Manusia tak lagi sujud kepada bumi,
melainkan kepada alat-alat berat
yang menggali perut gunung
siang dan malam.
Padahal tanah yang disakiti
tak pernah lupa
cara mengirim peringatan.
Banjir ini bukan sekadar air.
Ia adalah zikir alam
yang berubah menjadi murka.
Ia adalah tangisan akar
yang tercerabut dari tubuh bumi.
Ia adalah khutbah Tuhan
yang turun bersama lumpur
agar manusia belajar kembali
arti amanah.
Bahwa hutan
bukan sekadar warisan nenek moyang,
melainkan titipan anak cucu
yang belum lahir.
Kini dari udara
kampung itu seperti sajadah robek.
Padahal tanah yang disakiti
tak pernah lupa
cara mengirim peringatan.
Banjir ini bukan sekadar air.
Ia adalah zikir alam
yang berubah menjadi murka.
Ia adalah tangisan akar
yang tercerabut dari tubuh bumi.
Ia adalah khutbah Tuhan
yang turun bersama lumpur
agar manusia belajar kembali
arti amanah.
Bahwa hutan
bukan sekadar warisan nenek moyang,
melainkan titipan anak cucu
yang belum lahir.
Kini dari udara
kampung itu seperti sajadah robek.
Sungai menjulur panjang
bagai ular lumpur
yang mencari jalan pulang
ke hati manusia
yang telah mengeras.
Aku memandang semuanya
dengan dada yang retak.
yang telah mengeras.
Aku memandang semuanya
dengan dada yang retak.
Tak banyak kata tersisa.
Hanya gema tua
dari tanah
yang kehilangan penjaganya.
Kalanareh, Mei 2026


