Gunongan: Panggilan Cinta Dalam Sunyi Yang Menyala
Oleh: L K Ara
Banda Aceh I Gebrak24.com - Malam turun di halaman Gunongan, bukan sekadar gelap—ia menjadi ruang tafakur. Di sana, puisi tidak dibacakan untuk didengar telinga semata, melainkan untuk disentuh oleh hati yang masih bersedia bergetar.
Gunongan berdiri seperti mihrab terbuka, mengajak siapa pun yang hadir untuk memasuki kedalaman yang sering kita hindari: kedalaman diri sendiri.
Bangunan itu, dahulu dihadirkan oleh Iskandar Muda sebagai tanda cinta kepada Putri Pahang.Kini memanggil dengan makna yang lebih luas.
Ia bukan lagi sekadar kisah dua manusia, melainkan isyarat tentang cinta yang lebih tinggi—cinta yang menuntun manusia dari yang fana menuju yang kekal. Sebab dalam jalan batin, setiap cinta yang jujur pada akhirnya adalah jalan pulang.
Para penyair yang hadir malam itu datang membawa kata, tetapi sesungguhnya mereka sedang membawa diri. Taufiq Ismail, L K Ara, dan lainnya, berdiri bukan sebagai pusat perhatian.
Melainkan sebagai perantara. Puisi yang mereka bacakan bukan milik mereka sepenuhnya—ia seperti air mengalir dari sumber yang tak terlihat. Lalu singgah sejenak di lidah sebelum kembali ke asalnya.
Difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan, peristiwa ini tampak sebagai kegiatan budaya. Namun bagi yang memandang dengan mata batin, ia lebih dari itu:
Ia adalah majelis sunyi di tengah keramaian. Di sana, kata-kata menjadi zikir, ritme menjadi napas, dan diam menjadi bahasa paling jujur.
Gunongan mengajarkan bahwa cinta tidak selalu membutuhkan suara keras. Ia hadir dalam diam yang penuh. Seperti seorang salik berjalan tanpa riuh, namun sampai pada tujuan. Bangunan itu berdiri tanpa bergerak, tetapi memanggil siapa saja yang bersedia mendekat: “Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenal sumber segala cinta.”
Malam itu, puisi-puisi tidak sekadar dibacakan—mereka ditanggalkan dari ego. Setiap bait adalah upaya membersihkan diri dari kata-kata berlebihan, menuju makna yang lebih jernih. Di tengah dunia penuh klaim dan penegasan diri, puisi justru mengajarkan pengosongan: bahwa untuk mendengar yang hakiki, kita harus lebih dulu sunyi.
Dalam gema yang memantul dari dinding Gunongan, ada sesuatu perlahan disadari: bahwa kita sering mencari makna ke luar, Padahal ia bersemayam di dalam. Kita mengejar bentuk, tetapi lupa sumber. Kita sibuk mengucapkan cinta, tetapi jarang benar-benar merasakannya.
Gunongan tidak mengajarkan dengan kata. Ia mengajarkan dengan keberadaannya. Ia adalah diam yang berbicara, bentuk mengingatkan, dan keheningan membuka jalan. Di hadapannya, puisi menjadi laku—bukan sekadar karya, tetapi perjalanan.
“Puitika Tanah Rencong” dalam cahaya ini bukan lagi sekadar peristiwa sastra. Ia adalah panggilan halus untuk kembali. Kembali kepada rasa yang jernih, kepada niat lurus, kepada kesadaran bahwa segala yang indah di dunia ini hanyalah bayang dari keindahan lebih tinggi.
Dan ketika malam beranjak pergi, yang tersisa bukan hanya kenangan, melainkan jejak batin: bahwa cinta sejati tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu untuk disadari—dalam sunyi, dalam puisi, dan dalam diri. Akhirnya mengenal asalnya. ***


