BREAKING NEWS


 


 

LHOKSEUMAWE : KOTA YANG TIDUR DI DADA OMBAK

 


L K Ara


Puisi esai


Lhokseumawe
adalah kota
yang sejak kecil
diasuh laut.

Angin asin
menjadi guru pertamanya.
Ombak
adalah kitab yang dibaca nelayan
setiap subuh
dengan mata yang belum selesai bermimpi.

Di kota itu
perahu-perahu tua
pernah singgah
membawa lada, doa,
dan kabar dari negeri jauh.

Konon,
kapal Arab pernah menurunkan azan
di pesisirnya.
Pedagang Gujarat
meninggalkan jejak kain dan huruf.
Dan malam-malam panjang
dipenuhi suara zikir
yang bercampur desir ombak.

Kesultanan Samudera Pasai
pernah mengirim cahaya
melewati pelabuhan kecil itu.

Islam datang
bukan dengan pedang,
melainkan dengan garam laut,
senyum saudagar,
dan tangan-tangan yang jujur menimbang rempah.[1]

Lhokseumawe
mula-mula hanyalah teluk sederhana.
Tapi sejarah sering lahir
dari tempat-tempat sunyi
yang tidak dicatat penjajah.


Lalu waktu berjalan.
Belanda datang
membawa peta,
senapan,
dan kerakusan panjang.

Rel-rel besi dibentangkan
di atas tanah yang dulu hanya mengenal
jejak kaki kerbau
dan sandal para ulama.[2]

Namun kota itu tetap bertahan
seperti doa ibu
yang tidak pernah selesai.

Sampai suatu hari
bumi Arun dibelah.

Gas menyembur
dari perut tanah
seperti raksasa tidur
yang tiba-tiba bangun
dan mengubah nasib manusia.

PT Arun NGL
berdiri
seperti menara modern
di tengah kampung-kampung tua.

Orang-orang asing datang
dengan helm putih
dan bahasa yang tidak dimengerti nelayan.

Hotel tumbuh.
Lampu kota menyala sampai dini hari.
Dolar beterbangan
seperti burung-burung migrasi.

Dan Lhokseumawe
dipanggil orang
sebagai kota petro dolar.[3]

Tetapi kekayaan
sering memiliki bayangan gelap.

Di sela cahaya industri
ada ibu-ibu yang tetap menjual ikan
di bawah matahari.

Ada anak-anak kampung
yang memandang pagar kilang

seperti memandang dunia
yang tidak sepenuhnya milik mereka.

Lalu konflik datang.
Langit Aceh
menjadi lebih muram.

Malam dipenuhi curiga.
Suara ombak
kadang kalah
oleh bunyi tembakan.[4]

Orang-orang belajar
bahwa tanah kelahiran
bisa berubah menjadi ruang takut.

Banyak nama hilang
tanpa nisan.
Banyak doa
dibaca dengan suara gemetar.

Dan laut
diam-diam menyimpan semuanya.

Tetapi Aceh
adalah bangsa yang keras kepala
dalam bertahan hidup.

Sesudah damai
orang-orang kembali menanam harapan
di halaman rumah mereka.[5]

Mahasiswa berjalan membawa buku.
Warung kopi kembali ramai.
Anak-anak muda bercita-cita
tanpa harus mendengar letusan senjata.

Di senja hari
pantai Lhokseumawe
tetap memerah
seperti luka lama
yang perlahan sembuh.

Dan kota itu kini
seperti lelaki tua
yang duduk di tepi laut,
mengingat masa mudanya
yang penuh badai.

Kadang ia tersenyum
mengenang kapal-kapal dagang.
Kadang matanya basah
teringat mereka
yang tak pernah kembali.

Tetapi ombak
tetap datang.

Karena sejarah sejatinya
bukanlah gedung-gedung,
bukan kilang gas,
bukan pula jalan raya—

melainkan ingatan manusia
yang terus hidup
meski zaman berkali-kali
mencoba menghapusnya.



Catatan Kaki

[1] Jalur perdagangan pantai utara Aceh sejak abad ke-13 menjadi pintu masuk penting penyebaran Islam melalui saudagar Arab, Persia, dan Gujarat.

[2] Pada masa kolonial Belanda, wilayah Aceh Utara termasuk kawasan strategis perdagangan dan transportasi hasil bumi. Jalur kereta api pernah dibangun untuk mendukung aktivitas ekonomi kolonial.

[3] Penemuan gas alam Arun pada 1970-an menjadikan Lhokseumawe salah satu pusat industri LNG terbesar di dunia dan melahirkan julukan “Kota Petro Dolar.”

[4] Konflik Aceh yang berlangsung selama puluhan tahun meninggalkan trauma sosial mendalam bagi masyarakat pesisir utara Aceh, termasuk warga Lhokseumawe.

[5] Setelah Perjanjian Helsinki, kehidupan sosial masyarakat Aceh perlahan pulih dan ruang pendidikan serta kebudayaan kembali tumbuh. ***
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar