BREAKING NEWS


 


 

Jacob Ereste : Diplomasi Spiritual Global Untuk Peradaban Manusia dan Mercu Suar Bagi Indonesia


Pecenongan I Gebrak24.com - Tradisi pertemuan rutin Senin-Kamis atau sebaliknya Kamis-Senin sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) sudah dibangun sejak dua tahun silam ( 2024) terus berlangsung nyaris tiada jeda, kecuali beberapa kali dipindahkan tempat pertemuannya, lantaran hendak disatukan dengan acara lain yang kebetulan sama waktunya, toh apapun agenda diskusi nonformal -- tapi selalu serius membahas salah satu topik atau bahkan lebih -- dapat dipastikan menghasilan kesimpulan yang dapat dijadikan bahan perenungan, atau bahkan hampir seluruh bahasan dari pembicaraan telah dituliskan dengan di publish menjadi konsumsi publik melalui media massa berbasis internit atau melalui media dalam bentuk yang lain.

Artinya, dari tradisi pertemuan rutin dan diskusi non formal itu, acara rutin Senin-Kamis atau Kamis-Senin setelah lebih dari setahun berlangsung, narasi yang dirilis dari acara tersebut setidaknya sudah bisa dibuat satu buku dalam bentuk bunga rampai cukup tebal yang untuk menandai sebuah perjalanan  organisasi non formal dan non struktural yang hadir dan relatif langgeng dalam membangun model  budaya yang khas, karena telah mengalami beragam ujian oleh sang waktu maupun warna dan corak yang bertumbuh dan memutik terus berkembang dari Sekretariat GMRI Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A Jakarta Pusat.

Menu kudapan pengikut kopi atau bahkan beras kencur  hangat -- ada juga yang suka dingin dengan es batu -- adalah trade mark dari produk orizinal Mbak Ning. Selain itu, nyaris tak ada camilan gorengan kecuali yang dianggap sekutu dari kolesterol, karena itu pisang kepok rebus menjadi paforit yang menyela diantara keasyikan diskusi santai yang bisa membahas berbagai soal, mulai dari MBG (Makan Bergizi Gratis) yang terus  menimbulkan keracunan bagi mereka yang mengkonsumsinya, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak terjawab.

Selain kudapan Ayam Ancuur dengan sambalnya yans joss gandos atau menu Soto Gebung dan Tongseng khas Solo, sihibul hajat acap menyajikan suguhan lauk pepes ikan yang istimewa, seakan menandai keriangan hatinya dari perspektif spiritual yang super nikmat.

Serangkaian menu sajian diskusi rutin informal GMRI ini tampak jelas beranjak dari tradisi menuju budaya yang  selalu berupaya memegang etika dalam tutur kata dan perilaku yang santun, tapi tetap santai nyaris tiada ada protokoler serta tata cara formal yang dibakukan.

Karena itu setiap sahabat dan Kerabat GMRI dapat mengajukan premisnya atau langsung dalam benruk pertabyaan yang dianggap penting untuk menjadi topik bahasan. Bahkan tak jarang diantara sahabat dan kerabat GNRI memaparkan pendapatnya tentang suatu hal atau masalah untuk dijeroyok oleh berbagai pendapat atau pemikiran dari sahabat dan kerabat GNRI lainnya.

Suadana demokratis seperti ini tumbuh dengan sendirinya dari akar kesadaran spiritual, yaitu etija, moral dan akhlak mulia untuk menjaga fitrah dari manusia sebafau pengemban amanah Tuhan, yaitu khalufatullah di bumi.

Dalam tradisi GNRI yang tekah berkecambah menuju budaya yang paripurna, sesebutan untuk sesama sahabat dan kerabat GMRI pun sungguh terkesan santun dan ugahari tiada abai pada takzim mulai dari sebutan Romo sebagai sosok yang dianggap tua bujan dalam arti usia, Gus sebagai ekspresi dari  penghargaan serta rada kasih dan sayang, Mas sebagai sunonim dari Kang Mas yang patut dihormati hingga Mbakyu dan Bunda untuk saudari wanita yang dianggap mulia. Bahkan, ada tutur atau julukan spesial untuk Opa yang artinya lebih abstrak namun terkesan begitu mesra dan menyejukkan.

Begitulah, semacam rekapitulasi dari perjalanan tradisi GMRI  melintas menuju pusat kebudayaan untuk menyalakan penyuluh cahaya bumi  agar tak gersang dari tetumbuhan spiritual agar menerangi jagat manusia yang terkesan sempit, padahal sesungguhnya sungguh sangat maha luas, seakan sedang mengungkap kekuasaan Tuhan yang sesungguhnya terhadap alam raya dan seisinya.

Kiprah GMRI yang digerakkan oleh para sahabat serta kerabat aktif menjalin silaturrahmi dengan berbagai pihak, baik yang bersifat instansional, kelembagaan, hingga ormas serta tokoh secara personal untuk membumikan gerakan kesadaran  pemahaman spiritual untuk menjadi penyangga peradaban manusia yang mengakar dalam etika dan moral untuk akhlak kemuliaan manusia di dunia.

Karena itu, pemaknaan silatirrahmi dalam  tatanan global dapat diimplementasikan oleh GMRI dalam bentuk diplomasi spiritual global dengan kenyanbangin sejumlah Kedutaan Besar Negara sahabat untuk kemudian ditindaklanjuti kunjungan kehormatan ke berbagai negara sahabat sambil mengusung missi negara dan bangsa Indonesia mewujudkan tampilan sebagai mercu suar dunia.

Indonesia sendiri yang kelak dapat menjadi pusat kajian, pengembangan serta laboratorium spiritual dunia pantas menjadi tujuan utama  kunjungan wisata spiritual dengan potensi kekayaan budaya dan tradisi yang luhur serta peninggalan sejarah keajaiban dunia seperti beragam candi di Jawa maupun di Sumatra yang menandai masa jaya di masa lampau yang tidak bisa diabaikan.

Oleh karena itu, diplomasi spiritual global yang akan segera dilakukan GMRI dengan bekal "Kitab MA HA IS MA YA" dalam bahasa bumi serta penganugrahan Asma Bhumi kepada sejumkah tokoh dunia, jelas dan pasti akan membuat getaran dari frekuensi bumi sampai ke langit yang akan segera menciptakan perubahan yang signifikan untuk peradaban manusia di masa depan yang lebih baik dan lebih beradab.

Idealnya begitulah, dari diskusi rutin informal Senin-Kamis atau Kamis- Senin GMRI, hingga rumusan program Diplomasi Spiritual Global hingga Indonesia sebagai mercu suar dunia.***

Semoga saja segera terwujud.

Pecenongan, 4 Maret 2026

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar