Padi Menguning Sabit Bernyanyi
0 menit baca
Umar A Pandrah
Langit mengasah pisau di ubun-ubun petang.
Padi menguning
seribu lentera kecil menunduk,
menghitung detik menuju sabithu
Di pematang,
doa ibu mengendap jadi embun.
Arit bernyanyi lirih di pondok,
menunggu darah pertama bulir.
Lalu dari hulu,
banjir datang menunggang kuda liar.
Surainya buih,
derapnya meretakkan nadi sawah.
Ia tak mengetuk pintu,
ia merobohkan dinding
Padi kuning itu
kini jadi sajadah yang basah.
Ia rebah bukan karena tunduk,
tapi karena dipaksa sujud
tak mengenal kiblat.
Kulihat ibu memungut bulir
hanyut di selokan,
digenggamnya seperti nama anak
diculik malam.
Ayah berdiri di galengan,
diamnya setegak nisan,
matanya dua telaga
tak rela tumpah di depan banjir.
Banjir,
kaupikir kau menang?
Kau hanya memandikan luka,
bukan membunuhnya.
Belajar dari padi
semakin berisi, semakin merunduk.
Semakin dihantam, semakin tahu
bangkit dari lumpur.
Besok,
saat kau pulang ke hulu
dengan perut kenyang gabah kami,
kau dengar lagi
gemerisik di pematang.
Itu kami,
menanam lagi
dengan jari yang luka,
dengan dada utuh.
Padi boleh kuning,
boleh tumbang,
boleh hanyut.
Musim
tak pernah mati
di tangan petani,
percaya
setiap banjir
adalah undangan
untuk menanam
lebih dalam.***

