SYAIR RIWAYAT DATOK PINING
0 menit baca
LK Ara
Bab I – Asal Usul dan KelahiranBait 1–20
Bait 1
Bismillah mula hamba karang,
kisah lama jangan terbuang,
Datuk Pining nama dijulang,
harum terkenang sepanjang zaman.
Bait 2
Di tanah Gayo negeri permai,
gunung berdiri sungai berderai,
lahirlah putra mulia pandai,
cahaya agama datang menyertai.
Bait 3
Pining namanya kampung bertuah,
udara dingin pagi cerah,
di sanalah tumbuh insan berfaedah,
kelak menjadi tempat berserah.
Bait 4
Ayahnya alim ibunya santun,
hidup sederhana menanam pantun,
mendidik anak dengan tuntunan,
agar berjalan di jalan ampun.
Bait 5
Sejak kecil tampak berbeda,
diam menatap langit terbuka,
hatinya bening jiwanya reda,
tanda kebesaran telah bermula.
Bait 6
Tangisnya lirih saat dilahirkan,
wajahnya teduh membawa harapan,
orang tua memandang ke depan,
anak ini kelak jadi pegangan.
Bait 7
Pada malam bulan purnama,
kampung sunyi penuh cahaya,
orang tua berkata sesama,
“Anak ini membawa tanda.”
Bait 8
Nenek tua membaca firasat,
melihat mata yang penuh hikmat,
katanya pelan sambil berselawat,
“Kelak ia menjadi orang bermartabat.”
Bait 9
Bukan harta yang akan datang,
bukan pula istana gemilang,
tetapi ilmu yang akan berkembang,
menjadi pelita sepanjang zaman.
Bait 10
Ayahnya menggendong penuh kasih,
membisik azan suara bening,
agar kalimat pertama yang singgah,
adalah nama Tuhan Yang Pengasih.
Bait 11
Ibunya menimang dengan doa,
air mata jatuh penuh cinta,
berharap anak tumbuh mulia,
menjadi penolong agama.
Bait 12
Rumah kecil beratap rumbia,
menjadi saksi awal cerita,
kesederhanaan bukan nestapa,
tetapi jalan menuju mulia.
Bait 13
Hari berganti musim berjalan,
anak itu tumbuh perlahan,
lebih suka duduk mendengarkan,
daripada bermain tanpa tujuan.
Bait 14
Jika anak lain berkejaran,
ia memilih dekat halaman,
mendengar ayah membaca Qur’an,
dengan wajah penuh perhatian.
Bait 15
Huruf-huruf suci mulai dikenalnya,
alif ba ta menjadi sahabatnya,
setiap ayat yang masuk ke jiwa,
membuka pintu cahaya.
Bait 16
Guru pertama adalah ayah,
yang mengajar dengan sabar dan ramah,
bukan hanya ilmu tentang ibadah,
tetapi adab hidup yang indah.
Bait 17
Ibunya mengajarkan kelembutan,
bahwa kuat bukanlah kekerasan,
melainkan hati yang tahan ujian,
dan tangan yang ringan memberi bantuan.
Bait 18
Maka tumbuhlah ia perlahan,
bagai pohon di tanah pegunungan,
akarnya kuat menahan zaman,
rantingnya kelak memberi teduhan. ***
Bait 19
Tetangga mulai melihat tanda,
anak itu jarang berkata sia-sia,
bila berbicara penuh makna,
meski usianya masih belia.
Bait 20
Demikian awal kisah bermula,
tentang Datuk Pining yang mulia,
akan bersambung bait berikutnya,
masa kecil dan langkah pertama.


