Anak Kecil di Sungai Luka
0 menit baca
L K Ara
Enam bulan sesudah banjir itu,
sungai masih membawa bau lumpur,
bau kayu patah,
bau rumah-rumah
yang mati tanpa sempat mengucap salam terakhir.
Di Reje Payung,
seorang bocah kurus
merangkak di atas jembatan apung
yang bergoyang seperti napas orang tua
menahan sakit.
Ia mengais barang hanyut
dengan tangan sekecil doa
yang belum selesai diaminkan langit.
Kadang yang didapatnya
hanya sandal sebelah,
panci penyok,
atau kain lusuh
yang entah pernah membungkus tubuh siapa.
Air sungai berwarna coklat pekat,
seperti membawa seluruh duka gunung
ke dada kampung yang sudah rebah.
Tak ada lagi halaman tempat layang-layang naik.
Tak ada lagi suara mengaji
dari rumah papan di pinggir sungai.
Yang tersisa hanya tenda-tenda lelah,
ibu-ibu dengan mata cekung,
dan anak-anak
yang terlalu cepat mengenal kehilangan.
Bocah itu terus memungut
barang-barang hanyut
seakan sedang mencari kembali
masa kecilnya
yang ikut terbawa arus.
Barangkali ia pernah punya mainan.
Barangkali ia pernah tertawa
mengejar capung di sawah.
Tetapi bencana
telah mengubah sungai
menjadi sekolah pertama tentang lapar.
Ya Allah…
betapa kecil tubuh itu
di hadapan air yang ganas.
Betapa sunyi matanya
seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya.
Dan ketika senja turun
di atas Reje Payung yang luka,
bocah itu masih jongkok di tepi arus,
mengais sisa-sisa dunia,
sementara langit
diam terlalu lama.

