BREAKING NEWS


 

Ancaman Nyata di Depan Mata Kehilangan "Martabat Ekonomi"

 


Oleh: Khairul Mahalli 


Jakarta I Gebrak24.com - Menurut Presiden, kapitalisme modern telah menjelma menjadi liberalisme yang bergerak tanpa wajah, tetapi tetap membawa residu eksploitasi yang sama dengan masa lalu.

Peringatan Presiden Prabowo Subianto bahwa nenek moyang kita pernah dianggap “lebih rendah dari anjing” bukan sekadar nostalgia. Itu adalah provokasi moral.

Pengingat keras bagi generasi muda bahwa kedaulatan bangsa hari ini ditebus dengan harga mahal: martabat manusia yang pernah diinjak-injak selama ratusan tahun.

Ancaman nyata di depan mata adalah kehilangan “martabat ekonomi” jika visi ekonomi Presiden—yang merupakan perwujudan nilai-nilai Marhaen—tidak dijalankan secara konsekuen.

Liberalisme ekonomi yang liar menempatkan rakyat hanya sebagai objek pasar. Tanpa keberanian untuk *Berdikari*, kita hanya berpindah dari penjajahan fisik ke penjajahan sistemik. Kekayaan alam dikuras, sementara rakyat tetap menjadi penonton di tanah airnya sendiri.

Akar rumput

Transformasi bangsa harus dimulai dari akar rumput. Modernitas sejati lahir dari desa kita sendiri. Kabar baiknya, *Koperasi Merah Putih* telah mulai bergerak sebagai mesin penggerak ekonomi kerakyatan.

Dengan menghidupkan koperasi dan membangun _smart system_ di pedesaan, jati diri bangsa yang berlandaskan gotong royong menjadi nyata. Inilah jawaban telak atas liberalisme yang menciptakan jurang ketimpangan antara kota dan desa.

Otoritas Pancasila

Perjuangan ini menuntut ditegakkannya *Otoritas Pancasila* dalam seluruh peraturan perundang-undangan dan perilaku pejabat publik. Dari keputusan kepala daerah hingga kebijakan pejabat BUMN, semuanya harus selaras dengan napas Pancasila.

Setiap regulasi harus melewati “audit ideologi” agar tidak ada celah bagi kepentingan asing atau oligarki yang bersembunyi di balik jubah pasar bebas.

Pejabat publik harus kembali pada fitrahnya sebagai pelayan kedaulatan rakyat, bukan makelar kebijakan. Hanya dengan konsistensi ini, kemerdekaan yang kita nikmati akan bertransformasi menjadi kesejahteraan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

ReferensI Pustaka
  1. *Soekarno.* (1933). _Mentjapai Indonesia Merdeka_. Risalah Marhaenisme dan Berdikari.
  2. *Mohammad Hatta.* (1954). _Membangun Kooperasi dan Kooperasi Membangun_. Jakarta: Penerbitan dan Balai Buku Indonesia.
  3. *Martin Sembiring.* (2026). _Buku Putih: Membangun Ekonomi Desa Berbasis Koperasi Merah Putih_.
  4. *Prabowo Subianto.* (2024). _Strategi Transformasi Bangsa: Menuju Indonesia Emas 2045_. Jakarta.
  5. *Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.* Pasal 33 tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial.
  6.  *Sekretariat Negara RI.* (2026). _Pidato Presiden RI Terkait Refleksi Sejarah dan Kedaulatan Bangsa_. Jakarta.
  7. *Dokumen FORMAS Sumatera Utara.* (2026). _Deklarasi Kedaulatan Ekonomi dan Ideologi Pancasila_. Medan. ***
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar