BREAKING NEWS


 

Bila Penyair Asia Menyaksikan Banda Aceh

 


L K Ara

Bertemu Gubernur Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Fadhlullah, dan Wali Kota Illiza

Di kota yang pernah dibasuh tsunami
dan dibangunkan kembali oleh doa-doa,
para penyair Asia datang
membawa bahasa masing-masing:
bahasa hujan dari Jepang,
bahasa sungai dari Mekong,
bahasa padang pasir dari Pakistan,
dan bahasa rindu

dari tanah-tanah Melayu yang lama terluka.
Mereka turun di Banda Aceh
seperti burung-burung musim
yang mencari dahan sejarah.

Di pelataran kota,
azab masa lalu masih terasa
pada batu-batu tua,
pada nama-nama syuhada
yang diam di nisan tanpa suara.

Namun Banda Aceh
bukan lagi hanya cerita luka.
Ia kini seperti perempuan tua
yang tetap menggenggam tasbih
meski rumahnya pernah hanyut ke laut.

Para penyair itu berjalan perlahan
melewati Masjid Raya Baiturrahman
yang kubahnya masih menyimpan gema takbir
dari malam-malam penuh air mata.

Lalu mereka bertemu
dengan Gubernur Aceh,
Muzakir Manaf,
lelaki yang wajahnya
masih menyimpan jejak gunung dan hutan,
seolah sejarah perang belum benar-benar tidur
di matanya.

Di sampingnya berdiri
Wakil Gubernur Aceh,
Fadhlullah,
yang suaranya tenang
seperti angin dari pesisir utara,
namun matanya menyimpan kesungguhan
tentang masa depan negeri.

Ia berbicara perlahan
tentang generasi muda,
tentang tanah Aceh
yang tidak boleh kehilangan akar
di tengah dunia yang berubah cepat.

Dan para penyair melihat
bahwa kepemimpinan
tidak selalu hadir
dengan gemuruh kata-kata,
kadang ia tumbuh
dari kesediaan mendengar
suara rakyat kecil
yang sering tenggelam oleh zaman.

Ia menyambut para penyair
dengan senyum sederhana.
Namun di balik senyum itu,
Aceh tampak berdiri
seperti pohon tua
yang berkali-kali ditebang
tetapi tetap tumbuh
dari akar doa rakyatnya.

Seorang penyair dari India berbisik:

“Di negeriku,
pemimpin sering sibuk menjaga istana.
Tetapi di sini
aku melihat sejarah berjalan bersama rakyat.”

Penyair dari Turki menatap langit Banda Aceh,
lalu teringat pada Istanbul,
pada kota tua
yang juga dibangun
oleh luka dan zikir.

Sementara itu,
Wali Kota Banda Aceh,
Illiza Sa’aduddin Djamal,
datang seperti ibu
yang membawa cahaya subuh
ke halaman kota.

Ia berbicara tentang pendidikan,
tentang perempuan,
tentang anak-anak
yang harus tumbuh
tanpa kehilangan akhlak
di tengah dunia yang gaduh.

Dan para penyair Asia terdiam.

Sebab mereka tahu:
kota yang besar
bukan hanya kota yang memiliki gedung tinggi,
tetapi kota
yang masih menyisakan tempat
bagi doa seorang ibu
dan azan seorang fakir.

Di sudut lain,
angin dari Laut Hindia
masih membawa bau garam
dan kenangan tsunami.

Namun Banda Aceh malam itu
tidak sedang menangisi masa lalu.

Ia sedang belajar menjadi cahaya.

Para penyair membaca puisi
di bawah langit Serambi Mekah.
Ada yang menangis diam-diam
saat mendengar syair tentang yatim tsunami.
Ada yang menunduk
ketika nama Tuhan disebut
di antara tepuk tangan.

Dan tiba-tiba
seorang penyair tua dari Asia Tengah berkata:

“Barangkali dunia terlalu sering
membangun kota dengan semen,
tetapi Aceh mencoba membangunnya
dengan ingatan
dan iman.”

Malam semakin larut.

Lampu-lampu Banda Aceh
berkilau seperti tasbih
yang tercecer di atas sajadah langit.

Di kejauhan,
Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri,
seperti penjaga waktu
yang tidak pernah tidur.

Dan para penyair Asia pun mengerti:

Aceh bukan sekadar daerah di peta.
Ia adalah luka
yang belajar menjadi hikmah.
Ia adalah zikir
yang berjalan di tengah sejarah.
Ia adalah negeri
yang pernah tenggelam
tetapi menolak hilang.

Catatan Kaki

1. Banda Aceh adalah ibu kota Provinsi Aceh yang dikenal sebagai “Serambi Mekah,” sebuah julukan yang lahir dari sejarah panjang Islam dan perannya sebagai pusat penyebaran agama di Asia Tenggara.

2. 2004 Indian Ocean earthquake and tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004 dan menewaskan ratusan ribu jiwa. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern Indonesia.

3. Masjid Raya Baiturrahman merupakan simbol religius dan historis masyarakat Aceh. Masjid ini tetap berdiri kokoh ketika tsunami menerjang Banda Aceh dan menjadi tempat perlindungan banyak warga.

4. Muzakir Manaf adalah Gubernur Aceh yang dikenal luas dengan panggilan Mualem. Ia merupakan tokoh penting dalam sejarah politik Aceh pascakonflik dan perdamaian Helsinki.

5. Fadhlullah adalah Wakil Gubernur Aceh yang mendampingi pemerintahan Aceh dalam periode kepemimpinan terkini.

6. Illiza Sa’aduddin Djamal dikenal sebagai tokoh perempuan Aceh yang aktif dalam isu pendidikan, syariat Islam, pemberdayaan perempuan, dan pembangunan kota berbasis nilai religius.

7. “Serambi Mekah” adalah sebutan kultural bagi Aceh yang menggambarkan kuatnya tradisi Islam dalam kehidupan sosial masyarakatnya sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam.

8. Puisi esai ini memadukan unsur dokumenter, refleksi sejarah, spiritualitas, dan imajinasi penyair untuk menggambarkan Banda Aceh sebagai ruang pertemuan antara luka kemanusiaan, ingatan sejarah, dan harapan masa depan Asia.
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar