Bila Penyair Asia Menyaksikan Bireuen, Kota Juang
0 menit baca
L K Ara
Di suatu sore yang berdebuketika matahari jatuh perlahan
di atas jalan-jalan tua Bireuen,
para penyair Asia datang
dengan bahasa yang berbeda-beda
namun membawa luka yang hampir sama.
Mereka turun dari ingatan panjang
tentang perang, penjajahan, dan kehilangan.
Ada yang datang dari negeri hujan bambu,
dari sungai-sungai Cina yang purba,
dari Jepang yang pernah terbakar bom,
dari India yang tubuh puisinya penuh doa,
dari Palestina yang matanya tak pernah selesai berkabung,
dan dari Nusantara
yang selalu belajar berdamai dengan sejarah.
Mereka berdiri di kota itu
dan angin membawa bau tanah,
bau kopi yang pahit,
serta samar-samar bau darah
yang pernah mengering di halaman waktu.
Salah seorang penyair bertanya:
“Apakah ini kota
atau luka yang dipelihara menjadi sejarah?”
Tak ada yang menjawab.
Sebab di Bireuen,
bahkan kesunyian pun seperti bekas tembakan.
⸻
Mereka berjalan melewati pasar,
warung kopi,
dan wajah-wajah tua
yang masih menyimpan perang
di dalam kerut dahinya.
Seorang ibu menjual pisang goreng
dengan tangan yang pernah gemetar
menunggu anaknya pulang dari hutan.
Seorang lelaki tua duduk di sudut kedai
mengisap rokok perlahan
seakan sedang menghabiskan sisa masa lalu.
Dan seorang anak kecil tertawa
tanpa mengetahui
bahwa tanah tempat ia berlari
pernah menjadi tempat orang-orang kehilangan nama.
Penyair dari Vietnam menangis diam-diam.
Ia teringat kampungnya
yang dahulu juga dipenuhi api.
Penyair dari Kamboja menunduk lama.
Ia mengenali aroma ketakutan
yang pernah hidup di negerinya.
Sedang penyair dari Aceh sendiri
hanya mampu memandang langit
karena terlalu banyak cerita
yang tak sanggup ditulis seluruhnya.
⸻
Malam turun perlahan
di Kota Juang.
Lampu-lampu mulai menyala
tetapi sejarah tidak pernah benar-benar tidur.
Di warung kopi,
orang-orang berbicara tentang harga beras,
tentang hujan,
tentang anak-anak mereka yang merantau.
Namun di sela percakapan itu
masih ada bunyi samar
dari masa lalu yang belum selesai.
Seperti ada sepatu tentara
berjalan jauh di dalam ingatan.
Seperti ada ibu-ibu
yang masih menunggu seseorang pulang
padahal makamnya pun tidak diketahui.
Penyair Jepang berkata lirih:
“Negeri yang pernah terluka
biasanya lebih mengerti arti damai.”
Lalu semua terdiam.
Karena damai di tanah ini
bukan hadiah dari langit,
melainkan sesuatu
yang dibayar mahal oleh air mata.
⸻
Menjelang dini hari
para penyair Asia berkumpul
di bawah langit Bireuen.
Tak ada pidato.
Tak ada festival sastra.
Tak ada tepuk tangan.
Hanya angin
dan suara azan yang jauh
mengalir dari masjid ke masjid
seperti doa yang berjalan pelan
melewati luka manusia.
Mereka akhirnya mengerti:
bahwa kota ini disebut Kota Juang
bukan karena ia gemar berperang,
melainkan karena ia terlalu lama
berjuang untuk tetap hidup.
Dan seorang penyair tua dari Asia Barat berkata:
“Kadang-kadang,
kota yang paling tabah
adalah kota yang belajar tersenyum
sesudah berkali-kali dikuburkan sejarah.”
Maka malam pun semakin dalam.
Dan Bireuen
tetap menyala perlahan
di dada para penyair Asia
sebagai puisi
yang tidak selesai dibaca waktu. ***

