Bila Penyair Asia Wisata Religi ke Guha Tujuh
0 menit baca
L K Ara
Di jalan berliku menuju Laweung,
di antara bukit batu dan desir laut Pidie,
para penyair Asia datang
membawa kitab sunyi dari negeri masing-masing.
Ada yang datang dari Jepang
membawa haiku tentang lumut dan hujan.
Ada yang datang dari India
membawa mantra sungai Gangga.
Ada yang datang dari Palestina
membawa doa yang terbakar perang.
Dan dari Aceh sendiri,
angin membawa zikir dari dayah-dayah tua.
Mereka mendaki perlahan
ke mulut gua yang gelap dan dingin,
tempat orang-orang tua dahulu
menyebutnya jalan rahasia para aulia.
“Di sinilah,” kata seorang pemandu,
“tujuh wali pernah menyepi dari dunia.”
Lalu sunyi turun
lebih khusyuk dari suara azan subuh.
Para penyair menyalakan senter,
namun cahaya mereka kecil
dibanding gelap yang telah berusia ratusan tahun.
Di dinding gua
air menetes seperti tasbih batu.
Kelelawar berputar di langit-langit,
seperti huruf-huruf hitam
yang belum selesai ditulis Tuhan.
Seorang penyair dari Turki bertanya:
“Benarkah gua ini tembus ke Mekah?”
Pemandu tersenyum pelan.
“Yang bisa sampai ke sana
bukan kaki,
melainkan hati.”
Maka mereka terdiam.
Karena di Asia
terlalu banyak manusia berjalan jauh
namun tak pernah sampai kepada dirinya sendiri.
Mereka melihat batu menggantung
tanpa penyangga,
Bate Meugantung
yang menentang logika dunia.
Dan seorang penyair Korea berkata:
“Kadang iman memang seperti itu—
tetap tergantung
meski akal tak mampu menopangnya.”
Di sudut gua
ada air bening menetes dari batu.
Para penyair membasuh wajah,
seakan sedang mengambil wudu
dari mata air purba.
Mereka tak lagi berbicara tentang sastra.
Tak lagi tentang penghargaan, festival,
atau tepuk tangan di panggung kota.
Di dalam Guha Tujuh
puisi berubah menjadi doa.
Dan doa
adalah bahasa tertua manusia.
Ketika mereka keluar dari gua,
matahari senja jatuh ke laut Aceh
seperti lembaran mushaf
yang ditutup perlahan.
Burung-burung pulang ke sarang.
Angin asin menyentuh wajah mereka.
Lalu seorang penyair tua berbisik:
“Barangkali perjalanan paling suci
bukan menuju Mekah,
melainkan perjalanan
membersihkan hati
sebelum menghadap Tuhan.”
Maka para penyair Asia itu pun pulang
dengan langkah lebih lambat,
dengan suara lebih rendah,
dan dengan jiwa
yang diam-diam telah berubah.
⸻
Catatan Kaki
Guha Tujoh Laweung adalah destinasi wisata alam dan religi di Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh. Guha ini dikenal memiliki tujuh lorong utama dan dipercaya dalam tradisi masyarakat setempat sebagai tempat khalwat para aulia. Sebagian masyarakat meyakini salah satu lorongnya “tembus ke Mekah”, meski hal itu berada dalam wilayah mitos dan kepercayaan turun-temurun. 

