Gema Hari Komunikasi Sedunia: Kaum Muda Paroki Simalingkar B Suarakan Pelayanan Berdaulat, Integritas Etika, dan Wajah Manusiawi
Medan I Gebrak24.com – Memperingati Hari Komunikasi Sedunia ke-60 pada Minggu, 17 Mei 2026, generasi muda Paroki Simalingkar B menghadirkan aksi nyata yang melampaui batas liturgis. Melalui kolaborasi kepanitiaan yang solid, mereka menyuarakan pesan tentang kedaulatan, pengabdian masyarakat, dan penjagaan etika di tengah tantangan zaman modern.
Momentum ini menjadi lebih bermakna karena sejalan dengan pesan penggembalaan Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, dalam Renungan Harian Minggu VII Masa Paskah. Bapa Uskup menegaskan bahwa komunikasi Kristen sejati bukan soal kecanggihan teknologi atau rekayasa citra. Inti dari komunikasi Kristen adalah menjaga wajah dan suara yang manusiawi, yang lahir dari kedalaman doa dan relasi dengan Tuhan dalam persekutuan.
Melayani Tanpa Sekat: Dari Gereja ke Masyarakat
Ketua Panitia, Robertung P. Panjaitan, menegaskan bahwa pelayanan kaum muda tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja. Semangat pengabdian harus dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
“Kami berkomitmen menjadikan pelayanan ini sebagai jembatan komunikasi dengan dunia luar. Generasi muda harus berani hadir di tengah masyarakat, membawa perubahan positif, dan menunjukkan bahwa kepedulian sosial adalah napas dari iman kita,” ujar Robertung.
Visi “Berjalan Bersama” dalam Sinode ke-7
Wakil Ketua Panitia, Gomgom Martogi Sidabutar, menyoroti pentingnya sinergi kolektif. Menghidupi semangat Sinode ke-7, Gomgom menekankan bahwa kekuatan kaum muda terletak pada kebersamaan.
“Kita tidak berjalan sendiri. Semangat ‘Berjalan Bersama’ memberi arah yang jelas bagi kaum muda. Ini adalah investasi masa depan untuk membentuk pemimpin yang tangguh dan siap mengabdi bagi gereja dan bangsa,” tegas Gomgom.
Semangat ini memperkuat refleksi Bapa Uskup tentang teladan para murid perdana dalam Kisah Para Rasul 1:12-14, yang bertekun sehati dalam doa sebelum diutus ke dunia. Komunikasi dan gerakan kaum muda harus lahir dari hati yang mendengarkan, bukan dari ambisi mengejar popularitas dan pencitraan semu.
Integritas Diri: Melawan Arus Liberalisme dengan Kesantunan
Dimensi etika dan karakter menjadi sorotan Sekretaris Panitia, Bela Triana Sebayang. Ia mengingatkan bahwa seorang pelayan harus menjaga integritas, termasuk dalam cara membawa diri dan berbusana.
Bela mengajak kaum muda, khususnya perempuan, untuk meneladani kesantunan Bunda Maria. Di tengah arus gaya hidup liberal yang mengabaikan nilai kesopanan, ia menegaskan pentingnya berbusana layak dan sopan sebagai bentuk penghormatan terhadap rumah Tuhan dan martabat diri.
“Etika adalah komunikasi tanpa kata. Kesantunan dalam perilaku dan berpakaian mencerminkan kedalaman iman kita,” ungkapnya.
Hal ini sejalan dengan pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun ini: “Jagalah wajah dan suara kita tetap manusiawi.” Di era digital dan kecerdasan buatan, kaum muda diingatkan untuk tidak memakai topeng manipulatif. Tampilkan wajah jujur yang memantulkan kasih, kelembutan, dan ketulusan Kristus.
Kedaulatan dan Kemandirian Ekonomi
Bendahara Panitia, I br Panggabean, menambahkan narasi tentang kedaulatan. Dalam momentum ini, ia menekankan bahwa pengelolaan amanah secara transparan adalah bentuk komunikasi kejujuran kepada umat.
“Hari ini kita bicara soal berdaulat. Bagi kami di kepanitiaan, berdaulat berarti mampu mandiri secara ekonomi dan transparan dalam pengelolaan dana. Dengan semangat berdikari, kita memastikan pelayanan ini tetap murni dan tidak terikat oleh kepentingan yang melemahkan nilai pengabdian,” jelas I br Panggabean.
Langkah transparansi ini menjadi wujud nyata dari suara yang jujur dan tidak direkayasa. Seperti diingatkan dalam renungan episkopal, tantangan terbesar zaman ini bukan kurangnya teknologi, melainkan hilangnya hati sebagai pusat persekutuan, ketika orang lebih sibuk membangun citra daripada menegakkan kebenaran.
Refleksi Hari Komunikasi Sedunia
Aksi dan pesan kolektif para pemuda Paroki Simalingkar B menjadi refleksi kuat bahwa komunikasi di era digital bukan sekadar soal teknologi. Komunikasi adalah soal pesan moral, kedaulatan bangsa, dan integritas karakter.
Membawa wajah dan suara asli ke tengah dunia luar tentu mengandung risiko penolakan dan penderitaan, sebagaimana ditulis dalam 1 Petrus 4:13-16. Namun melalui kesetiaan dan pengorbanan itulah kemuliaan pelayanan sejati dinyatakan.
Kehadiran mereka membuktikan bahwa di bawah bimbingan nilai-nilai luhur dan arahan pastoral para gembala, generasi muda Sumatera Utara siap menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan sosial, ekonomi, dan budaya. Mereka menjadi suara yang meneguhkan, menghibur, dan membawa damai di tengah arus globalisasi. ***

