Krueng Aceh Berbisik
0 menit baca
Umar A Pandrah
Sebelum fajar rebah di ujung Selat,
Namamu sudah dilafaz gelombang.
Sultan Iskandar Muda —
Angin Krueng Aceh berbisik pelan,
Membawa titahmu ke tiang-tiang layar.
I
Kau tulis _qanun_ di atas daun emas,
Tinta kau celup dari darah dan hikmah.
_Adat ngon hukôm, lagee zat ngon sifeut_ —
Tak terpisah, tak kau biarkan patah.
Baiturrahman kau dirikan dari doa,
Menaranya mencakar langit, azannya memeluk dunia.
II
Dua ribu haluan mengoyak Malaka,
Gajahmu mengaum, meriammu mengaji.
Johor tunduk, Pahang terdiam,
Bulan Bintang kau kibar di atas tiang agam.
Dunia kau genggam, bukan untuk congkak,
Tapi agar Aceh tak lagi dipijak.
III
Namun mahkota itu berat, Tuanku.
Adilmu setajam _rencong_, tak pilih kasih.
Anak sendiri kau hukum di atas takhta,
Karena nanggroe lebih mahal dari darah raja.
Di matamu: syariat harus tegak,
Walau hati seorang ayah retak.
IV
Kini kau sunyi di Kandang emas,
Nisan berbisik, rumput menunduk.
Tapi dengarlah, Tuanku —
Di pasar, di dayah, di kapal nelayan,
Anak cucu masih sebut namamu dengan dada lapang.
Sebab engkau ajari kami satu hal:
Aceh boleh miskin harta, tapi jangan miskin marwah.
Aceh boleh luka, tapi jangan hilang nama.
Tidurlah, Meukuta Alam.
Gema gendangmu belum padam.
Selama Krueng Aceh masih mengalir ke laut,
Selama azan masih sahut-menyahut,
Namamu adalah sumpah kami:
_Aceh meugah, Aceh meutuah, Aceh mulia di mata dunia.***


