Menjaga Rumah Kita: Sebuah Renungan tentang Persatuan
Medan I Gebrak24.com - Pernahkah kita merasa bahwa dunia hari ini sedang galau? Kabar dari luar negeri simpang siur, harga-harga mendaki pelan tapi pasti, dan di media sosial, kita seolah dipaksa untuk selalu memilih kubu. Inilah yang kita sebut sebagai *Galau Global*. Sebuah kondisi yang kalau kita tidak hati-hati, bisa membuat kita lupa cara tersenyum pada tetangga sendiri.
*Menurut pendapat Martin Sembiring*, obatnya bukan hal yang rumit. Obatnya ada pada satu tarikan napas yang sama sebagai bangsa: *Persatuan Indonesia*.
Bagi beliau, persatuan itu bukan soal baris-berbaris yang kaku. Ia adalah sebuah *kejujuran*. Ia bermula ketika apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita lakukan itu sama jalannya. Kita sering rindu pada sosok tokoh bangsa yang kata-katanya bisa dipegang. Nah, persatuan yang kokoh itu lahir ketika kita semua, mulai dari rakyat kecil hingga para penerus tokoh nasional, berani menunjukkan integritas yang sama. Menjadi pekerja keras yang tidak hanya pandai bicara, tapi nyata dalam berbuat.
Martin Sembiring juga mengajak kita menengok sejenak ke belakang. Bangsa kita punya sejarah yang luar biasa hebat. Sebagaimana *harapan tulus dari putri-putri Proklamator Bung Hatta* yaitu Meutia, Gemala, dan Halida Hatta serta *putri-putri Gus Dur* yaitu Alissa, Yenny, Anita, dan Inayah Wahid, mereka sangat merindukan generasi muda yang mencintai sejarahnya dan menjaga keberagaman. Memahami sejarah adalah cara kita mencintai rumah sendiri. Jauh sebelum peta modern ada, leluhur kita sudah menjalin persaudaraan di tanah Barus. Jika kita paham sejarah, kita akan punya rasa bangga, dan kita tidak akan rela jika negeri ini hanya dikelola oleh tangan-tangan asing.
Tentu, dalam menjaga rumah ini, pasti ada beda pendapat. Belakangan kita melihat kritik tajam yang dilontarkan sosok seperti *Ade Armando* atau *Grace Natalie*. Martin Sembiring melihat kritik-kritik tersebut ibarat *Sponsor dalam Pertandingan Sepak Bola*. Hadirnya bukan untuk menyerang pribadi atau meruntuhkan ketokohan seseorang, melainkan untuk menjaga sportivitas dalam bernegara.
Perlu kita pahami, yang mereka kritik sebenarnya adalah penerapan *cara pikir ideologi liberal maupun sektarian* yang dirasa menjauh dari semangat Pancasila. Kritik itu adalah alarm agar nilai-nilai luhur kita tidak tergerus oleh paham yang hanya mementingkan kelompok atau kebebasan tanpa tanggung jawab sosial. Kritik adalah bentuk cinta agar para pemimpin dan tokoh kita tetap berada di jalur negarawan yang murni.
Persatuan yang sejati justru tumbuh dalam ruang diskusi yang dewasa. Kita boleh mencintai tokoh persatuan kita, namun kita juga butuh suara-suara yang mengingatkan agar marwah kebangsaan tetap terjaga. Persatuan bukan berarti diam memendam bara, melainkan keberanian untuk tetap berhubungan baik meski ada beda pandangan, tanpa harus menutup pintu silaturahmi.
Puncaknya, persatuan itu sebenarnya adalah soal *Kasih*. Seperti pesan sejuk dari *Mgr. Kornelius Sipayung*, kekuatan yang sesungguhnya bukan terletak pada siapa yang paling berkuasa, tapi pada siapa yang paling rendah hatinya untuk membawa damai. Kasih yang tidak pakai syarat, kasih yang mau memberi diri, dan kasih yang mau merangkul mereka yang terluka.
Di tengah kegalauan dunia ini, mari kita tetap tenang. Jadilah pribadi yang selaras antara kata dan perbuatan, cintai sejarah kita, dan bukalah hati untuk saling menguatkan. Inilah harapan kita semua agar Indonesia tetap menjadi rumah yang kuat, harmoni, dan berdaulat bagi anak cucu nanti.
Tetap semangat, tetap bersaudara.
*Persatuan Kekuatanku*
- Di tengah badai galau yang menderu,_
- Kucari jangkar di dalam kalbu,_
- Bukan kuasa, bukan pula seteru,_
- Hanya kasih-Mu yang menyatu._
- Jujur berpikir, tulus berkata,_
- Nyata bekerja, hapus air mata,_
- Persatuan bukanlah sekadar kasta,_
- Ia adalah napas kedaulatan semesta._
- Tanpa sekat, tanpa curiga,_
- Indonesia berdiri, tetap terjaga,_
- Karena di sini, di jiwa yang raga,_
*Persatuan adalah kekuatanku yang baka.*
Penulis: Martin Sembiring_Pamong Pancasila


