BREAKING NEWS


 


 

Seni Tradisi Didong Gayo, Perlukah Didokumentasikan?

 


L K Ara

Di tanah tinggi Tanoh Gayo, ketika malam turun perlahan di sela kabut pegunungan, suara tepukan tangan dan syair-syair tua pernah menjadi denyut kehidupan masyarakat. Itulah Didong — seni tradisi yang bukan sekadar hiburan, melainkan ruang ingatan, pendidikan, dakwah, kritik sosial, dan persaudaraan. Di dalamnya hidup bahasa, adat, humor, falsafah, bahkan sejarah orang Gayo.

Pertanyaannya hari ini: perlukah Didong didokumentasikan?

Jawabannya bukan hanya perlu, tetapi mendesak.

Didong bukan benda mati. Ia hidup di lidah para ceh, di irama tepukan tubuh, di kekompakan kelompok, dan pada suasana batin masyarakat yang menontonnya. Namun zaman sedang bergerak cepat. Banyak seniman tua mulai renta. Banyak syair hanya tinggal hafalan yang belum pernah ditulis. Banyak generasi muda mengenal musik digital, tetapi asing terhadap syair kampungnya sendiri.

Jika tidak didokumentasikan, Didong perlahan akan hilang bukan karena dibenci, tetapi karena terlupakan.

Dokumentasi menjadi semacam “rumah ingatan.” Ia menjaga agar syair yang lahir dari kebijaksanaan orang tua tidak hanyut bersama waktu. Melalui dokumentasi, Didong bisa disimpan dalam bentuk tulisan, rekaman audio, video pertunjukan, arsip digital, hingga penelitian akademik. Anak cucu kelak dapat melihat bagaimana leluhurnya berbicara dengan sastra, bernyanyi dengan nasihat, dan bertanding dengan adab.

Lebih dari itu, dokumentasi adalah bentuk penghormatan kepada para maestro Didong. Banyak seniman tradisi wafat tanpa sempat meninggalkan arsip yang layak. Padahal mereka adalah perpustakaan hidup. Ketika seorang ceh meninggal, sering kali ikut terkubur ratusan bait syair yang tak pernah ditulis ulang.

Di sinilah pentingnya peran pemerintah, kampus, komunitas budaya, dan generasi muda. Dokumentasi tidak boleh hanya menjadi proyek seremonial. Ia harus menjadi gerakan kebudayaan. Setiap pertunjukan Didong seharusnya direkam. Syair-syair lama perlu dibukukan. Para pelaku seni perlu diwawancarai. Bahkan bahasa Gayo yang digunakan dalam Didong perlu dicatat sebagai bagian dari kekayaan linguistik Nusantara.

Namun dokumentasi saja tidak cukup.

Tradisi yang hanya disimpan di lemari arsip akan menjadi fosil budaya. Didong harus tetap dipentaskan, diajarkan, dan dihidupkan di tengah masyarakat. Dokumentasi hanyalah jembatan agar nyala itu tidak padam.

Sebab kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi cahaya untuk masa depan.

Didong mengajarkan bahwa orang Gayo pernah membangun peradaban lewat kata-kata yang santun, irama yang kompak, dan persaingan yang bermartabat. Dalam dunia hari ini yang gaduh oleh pertengkaran dan kehilangan akar budaya, Didong sesungguhnya menawarkan kearifan yang sangat modern: berdialog tanpa membenci, bersaing tanpa merendahkan.

Karena itu, mendokumentasikan Didong bukan sekadar menyimpan seni pertunjukan. Ia adalah upaya menyelamatkan jiwa sebuah masyarakat.

Dan bila suatu hari nanti anak-anak Gayo hanya mengenal Didong dari cerita samar orang tua, sementara suara tepukan dan syairnya telah hilang dari bumi pegunungan, maka yang hilang bukan hanya kesenian — tetapi sebagian dari identitas kita sendiri. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar