BREAKING NEWS


 

Sujud di Sajadah Tua


 Umar A Pandrah

Ku sujud di sajadah tua,
benangnya luka, warnanya pudar
oleh seribu air mata.
Ia tak lagi merah
jadi peta segala doa
tak sempat dijawab bumi.

Di tiap lekuknya,
tersembunyi tasbih putus
saat menyebut nama Tuhan
di malam perahu kami karam.

Di sudutnya,
masih ada bau minyak rambut ibu
Ku usap sebelum subuh
sambil berbisik: “Jaga anakku, ya Rabb.”

Sajadah ini jadi saksi,
ketika rumah masih punya atap,
ketika padi menguning
belum disapa banjir.
Kini jadi pulau terakhir
dari kerajaan kecilku
yang tenggelam oleh waktu.

Ku sujud,
di lantai mengaduh pelan.
Bukan karena berat tubuhku,
tapi karena berat rindu
kutumpahkan tanpa wadah.

Di luar,
hujan memukuli atap seng
seperti ratusan jari mengetuk pintu
tak akan dibuka siapa-siapa.

Di dalam,
hanya aku dan sajadah tua
saling mengimami sepi.

Tuhan,
jika Kau dengar gemetar di keningku ini,
jika Kau lihat sajadah ini
tak pernah absen meski robek,
tolong bisikkan pada banjir,
pada waktu,

pada semua yang pergi tanpa pamit:
“Aku masih di sini.
Masih sujud.
Masih percaya
bahwa patah akan dijahit
oleh tangan tak terlihat.”

Ku angkat kepala,
dan sajadah tua itu memeluk lututku
erat sekali,
seperti ibu takut
anaknya dibawa arus lagi.

Di luar tetap hujan.
Di dalam tetap sujud.
Dan di antara keduanya,
aku belajar
caranya pulang harus tiba.***

Bencana banjir, 27-12-2025
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar