BREAKING NEWS


 

Wisata Setelah Bencana

 


L K Ara

Puisi Esai

Di sebuah ruang yang dingin oleh pendingin udara
dua orang berdiri sambil tersenyum
sementara di luar sana
tanah yang luka masih belum selesai mengeringkan air matanya.

Seorang membawa kopi dari pegunungan
seorang lagi membawa nama negara
dan di antara keduanya
terselip harapan yang nyaris patah
namun belum mau tumbang.

Aceh Tengah baru saja melewati musim getir
ketika hujan turun seperti amarah panjang
dan gunung-gunung membuka luka
di dada kampung yang rapuh.

Mendale masih mengingat batu-batu yang jatuh
jalan-jalan yang putus
serta pohon-pohon tua
yang tumbang seperti orang tua kehilangan doa.

Anak-anak masih menghafal suara longsor
lebih fasih daripada pelajaran sekolah
dan ibu-ibu masih menjemur pakaian
di halaman yang separuh tertimbun lumpur.

Tetapi negeri ini memang aneh.
Sesudah bencana
orang-orang tetap menyeduh kopi
tetap membuka warung
tetap memanggil tamu dengan senyum.

Karena orang Gayo tahu
hidup tak boleh berhenti hanya sebab langit runtuh sebagian.

Maka Haili Yoga datang menemui Menteri Pariwisata
membawa cerita tentang tanah tinggi
tentang Danau Laut Tawar
tentang kabut pagi yang masih setia turun
meski hutan di sekeliling mulai kehilangan nama.

Mungkin yang dibicarakan bukan hanya wisata
tetapi juga cara menyelamatkan harapan.

Sebab pariwisata di negeri luka
bukan sekadar hotel dan baliho
melainkan bagaimana kampung bisa kembali bernapas
tanpa harus menjual seluruh tubuh gunungnya.

Aceh Tengah terlalu indah
untuk diperlakukan seperti barang tambang.

Di sana kopi tumbuh bersama doa
didong lahir dari napas rakyat
dan angin pagi membawa suara azan
melewati kebun-kebun yang basah.

Wisata sejatinya adalah
ketika alam dihormati
bukan diperkosa atas nama investasi.

Namun dunia modern sering datang
dengan proposal tebal dan janji lapangan kerja
sementara hutan perlahan hilang
dan sungai berubah warna.

Sesudah bencana
manusia sering lupa membaca tanda.

Padahal longsor adalah surat Tuhan
yang dikirim lewat tanah yang runtuh.

Dan banjir adalah teguran
bahwa gunung tak sanggup lagi
menanggung keserakahan manusia.

Maka pertemuan itu semoga bukan sekadar seremoni
bukan sekadar penyerahan kopi dan foto-foto resmi
tetapi awal dari percakapan panjang
tentang bagaimana menyembuhkan negeri.

Karena Aceh Tengah tidak butuh kemewahan berlebihan
ia hanya ingin dijaga.

Jaga hutannya
jaga danau
jaga adat
jaga udara dingin yang selama ini
membesarkan puisi-puisi dari tanah Gayo.

Biarlah wisata tumbuh
seperti kopi tumbuh di lereng
perlahan
wangi
dan tidak rakus.

Dan bila suatu hari wisatawan datang
dari Turki
dari Eropa
dari kota-kota yang jauh
mereka tidak hanya menemukan pemandangan
tetapi juga pelajaran:

bahwa sebuah negeri kecil di dada Sumatra
pernah terluka oleh bencana
namun memilih bangkit
tanpa membunuh alamnya sendiri.

Sebab negeri yang selamat
bukan negeri yang paling kaya
melainkan negeri yang masih mampu
mendengar tangis gunung
dan mengubahnya menjadi hikmah.

Catatan Kaki

  1. Aceh Tengah adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh yang berada di dataran tinggi Gayo dengan ibu kota di Takengon. Daerah ini dikenal sebagai penghasil kopi arabika Gayo yang mendunia serta memiliki panorama alam Danau Laut Tawar.
  2. Bencana dalam puisi ini merujuk pada berbagai musibah banjir dan longsor yang beberapa kali melanda kawasan Aceh Tengah dan sekitarnya akibat curah hujan tinggi, kerusakan kawasan hutan, serta perubahan tata ruang pegunungan.
  3. Mendale merupakan salah satu kawasan di sekitar Danau Laut Tawar yang dikenal memiliki situs sejarah dan permukiman masyarakat Gayo. Dalam puisi ini, Mendale menjadi simbol luka ekologis dan ingatan kolektif masyarakat pascabencana.
  4. Haili Yoga disebut sebagai representasi pejabat daerah yang berupaya membangun kembali sektor pariwisata Aceh Tengah setelah bencana. Kehadirannya dalam puisi menjadi simbol harapan dan diplomasi daerah.
  5. Menteri Pariwisata RI dalam konteks puisi adalah figur pemerintah pusat yang diharapkan mampu mendukung pemulihan ekonomi masyarakat melalui pengembangan wisata berbasis alam dan budaya.
  6. Danau Laut Tawar adalah danau terbesar di dataran tinggi Gayo yang menjadi ikon utama wisata Aceh Tengah. Danau ini tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Gayo.
  7. Didong adalah seni pertunjukan tradisional masyarakat Gayo yang memadukan syair, tepukan ritmis, gerak, dan sastra lisan. Didong menjadi identitas budaya penting dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh Tengah.
  8. Puisi esai ini mengangkat gagasan tasauf ekologi, yakni pandangan bahwa alam bukan sekadar objek ekonomi, tetapi bagian dari amanah spiritual manusia kepada Tuhan.
  9. Kalimat “longsor adalah surat Tuhan” merupakan metafora yang menempatkan bencana sebagai peringatan moral atas kerusakan hubungan manusia dengan alam.
  10. Tema utama puisi ini adalah pertarungan antara pemulihan ekonomi, pengembangan pariwisata, dan kelestarian lingkungan di kawasan pegunungan Gayo pascabencana. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar