Ketika Burung-Burung Membawa Aceh ke Langit - utk PPN XIV
0 menit baca
L K Ara
Tidak semua tamu datang dengan koper.
Sebagian datang
di punggung burung-burung kata.
Mereka hinggap
di ranting-ranting Aceh,
meminum embun yang menetes
dari ayat-ayat hikayat,
lalu mengepakkan sayapnya
ke langit dunia.
PPN
bukan sekadar pertemuan penyair.
Ia adalah musim
ketika pohon-pohon bahasa
berbuah cahaya.
Setiap puisi yang dibacakan
adalah benih
yang ditanam angin.
Barangkali ia tumbuh
di halaman sekolah.
Barangkali menjelma perpustakaan.
Barangkali menjadi roti
di meja seorang ibu.
Sebab kata-kata
yang ditanam dengan cinta
selalu berakar
di perut kehidupan.
Aceh membuka pintunya.
Bukan untuk memperlihatkan
betapa megah rumahnya,
tetapi untuk menghidangkan
api yang tidak membakar:
api kebudayaan.
Api
yang menghangatkan bangsa-bangsa
yang terlalu lama
kedinginan oleh kebencian.
Di warung kopi,
uap Gayo naik perlahan.
Ia bukan sekadar aroma.
Ia adalah doa
yang mencari langit.
Sementara di panggung,
Saman bukan lagi tarian.
Ia berubah menjadi sayap.
Dan setiap tepukan tangan
adalah kepakan malaikat
yang sedang menjaga
ingatan manusia.
Penyair-penyair datang
seperti sungai-sungai.
Mereka membawa air
dari gunung yang berbeda.
Di Aceh,
semua air itu
bermuara menjadi lautan.
Tak ada yang kehilangan nama.
Semuanya menjadi asin
oleh air mata kemanusiaan.
Bukankah laut
tak pernah bertanya
dari gunung man
asal sebuah sungai?
Begitulah sastra.
Ia menghapus batas
tanpa menghapus asal-usul.
Kelak,
ketika panggung dibongkar,
yang pulang bukan hanya manusia.
Burung-burung kata
akan tetap beterbangan.
Mereka akan bersarang
di hati anak-anak.
Menetas menjadi buku.
Tumbuh menjadi peradaban.
Dan suatu hari nanti,
ketika dunia mencari
dari mana cahaya itu berasal,
langit akan menjawab:
“Ada sebuah negeri di ujung barat,
yang tidak membangun menara dari batu,
melainkan dari doa,
puisi,
dan ingatan.” <Pesan ini diedit>

