Percakapan Imajiner: Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Reje Linge
Takengon I Gebrak24.com - Latar: Sebuah sore di dataran tinggi Gayo. Kabut turun perlahan di antara pinus.
Di sebuah pendopo kayu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berbincang dengan Reje Linge, pemimpin adat yang menjadi simbol kebijaksanaan Tanoh Gayo.
Fadli Zon:
“Reje, saya datang bukan sekadar menikmati keindahan alam Gayo. Saya ingin mendengar apa yang dibutuhkan kebudayaan Gayo.”
Reje Linge:
“Yang kami butuhkan bukan hanya panggung pertunjukan, Tuan Menteri. Kami membutuhkan rumah bagi ingatan.”
Fadli Zon:
“Rumah bagi ingatan?”
Reje Linge:
“Ya. Sebuah Taman Budaya Gayo. Tempat didong bergema, kerawang ditenun, bahasa Gayo diajarkan, manuskrip lama diselamatkan, dan anak-anak mengenal leluhurnya.”
Fadli Zon:
“Itulah arah yang sedang kami dorong. Kebudayaan harus hidup di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi koleksi museum.”
Reje Linge terdiam sejenak. Pandangannya menembus kabut yang menyelimuti perbukitan.
“Lihatlah para penyair kami,” katanya lirih. “Ada yang menghabiskan seumur hidupnya menyelamatkan warisan lisan, tetapi bekerja dalam sunyi.”
“Siapa yang Reje maksud?”
“L K Ara. Bertahun-tahun ia berkeliling kampung, menemui para ceh didong, menyalin syair-syair yang hampir hilang. Kini telah terhimpun puluhan ribu teks syair didong—barangkali salah satu dokumentasi terbesar yang pernah dilakukan untuk sastra lisan Gayo.
"Namun sebagian besar masih tersimpan dalam naskah. Bukan karena tidak ingin diterbitkan, melainkan karena keterbatasan biaya penerbitan.” ujar LK Ara, sastrawan senior ini.
Fadli Zon mengangguk pelan.
“Jika benar demikian, itu bukan sekadar kumpulan syair. Itu adalah arsip peradaban. Warisan seperti itu perlu dijaga, didokumentasikan, dan dikenalkan kepada generasi mendatang.”
Reje Linge melanjutkan,
“Setiap lembar yang belum diterbitkan sesungguhnya sedang berlomba dengan waktu. Para ceh satu demi satu telah berpulang. Bila syair mereka ikut hilang, maka hilang pula sebagian ingatan orang Gayo.”
Fadli Zon:
“Itulah sebabnya negara perlu hadir. Bukan hanya membangun gedung kebudayaan, tetapi juga membantu penyelamatan karya-karya yang menjadi memori kolektif bangsa.”
Reje Linge:
“Kalau begitu, jangan biarkan Gayo hanya dikenal karena kopinya. Di balik setiap cangkir kopi ada syair, ada tari, ada adat, dan ada sejarah panjang.”
Fadli Zon:
“Saya setuju. Kopi memperkenalkan Gayo kepada dunia, tetapi kebudayaanlah yang membuat dunia memahami jati diri Gayo.”
Reje Linge:
“Maka izinkan kami bermimpi. Di Takengon berdiri Taman Budaya Gayo. Di sana syair-syair didong yang telah dihimpun dapat diteliti, diterbitkan, dibacakan, dan diwariskan. Anak-anak belajar bahasa ibunya, para seniman berkarya, para peneliti datang, dan masyarakat menyaksikan bahwa kebudayaan bukan masa lalu, melainkan masa depan.”
Kabut semakin tebal. Dari kejauhan terdengar lantunan didong yang mengalun pelan.
Reje Linge tersenyum.
“Selama syair masih dinyanyikan,” katanya, “Gayo belum kehilangan jiwanya.”
Dan Menteri Kebudayaan mengangguk. Sebab ia tahu, membangun kebudayaan bukan hanya mendirikan bangunan, tetapi juga memastikan ribuan halaman yang menyimpan suara leluhur tidak selamanya tinggal menjadi manuskrip yang menunggu untuk dibaca dunia. (tiar)

