Tingkatkan Kompetensi Guru, SMKN 3 Lhokseumawe Bedah Metode Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus
Agenda ini bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dalam mengenali serta mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah umum. Dalam paparannya, Samhudi mengupas tuntas berbagai kategori ABK. Mulai dari kesulitan belajar, gangguan komunikasi, autisme, hingga gangguan sensorik seperti pendengaran dan penglihatan.
Sharing session ini tidak hanya mengulas teori semata. Para peserta juga diajarkan berbagai metode komunikasi praktis. Metode ini dirancang untuk mempermudah interaksi dan proses belajar mengajar dengan siswa berkebutuhan khusus.
Suasana ruang pertemuan tampak interaktif saat sesi diskusi dibuka. Para guru aktif membagikan pengalaman nyata mereka dalam menghadapi keragaman karakter murid di kelas.
Perwakilan guru SMKN 3 Lhokseumawe, Syarifah Safura, S.Pd., mengakui kegiatan ini membuka mata para pendidik akan pentingnya lingkungan inklusif.
"Kegiatan ini sangat menarik dan memantik rasa ingin tahu kami. Kami sadar masih banyak hal yang harus dipelajari untuk memberi layanan pendidikan yang tepat," ungkap Syarifah.
Ia juga menegaskan pentingnya pelatihan lanjutan yang lebih intensif. Alasan utamanya karena mayoritas guru sekolah umum tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus atau pengalaman menangani ABK.
Di sisi lain, Samhudi mengingatkan bahwa vonis atau identifikasi kondisi ABK tidak boleh dilakukan sembarangan. Proses tersebut wajib melibatkan tenaga profesional seperti dokter spesialis anak atau psikiater.
"Proses pendampingan dan terapi juga harus dilakukan secara berkelanjutan agar perkembangan anak terpantau baik," jelas Samhudi. (tim/red)

